Cerpen

Apa yang harus dilakukan untuk bisa menulis bagus, tanya seseorang. Ray Bradbury menjawab: “Setiap malam menjelang tidur, selama seribu hari ke depan, bacalah satu cerpen bagus, satu esai bagus dari topik yang luas, dan satu puisi karya maestro.”

Di sini, saya mengumpulkan cerpen-cerpen yang bisa menemani malam-malam seperti itu—cerita dari para penulis besar yang pantas dibaca ulang. Mungkin sesekali cerita saya sendiri.

Suatu malam nanti, entah pada malam keberapa, barangkali kamu menemukan sesuatu yang membuatmu ingin menulis ceritamu sendiri–dengan cara baru, dengan cara yang berbeda.[]

Gunting – Karina Sainz Borgo

Dalam Bayang-Bayang Perang – Ben Okri

Sebuah Rumah dekat Laut – Kamala Das

Jalan Panjang Menuju Selamanya – Kurt Vonnegut

Tuan Serba-Tahu – William Somerset Maugham

Cinta – William Maxwell

Pemuda Pemberani di Trapeze Terbang – Wililam Saroyan

Garis Perkawinan – Julian Barnes

Kepala Kantor Pos – Rabindranath Tagore

Penghormatan – Nadine Gordimer

Pernikahan itu Urusan Pribadi – Chinua Achebe

Setengah Hari – Naguib Mahfouz

Temanku yang Berambut Panjang – Heinrich Böll

Perpisahan Baik-Baik – A.S. Laksana

Seruan Hidup – Knut Hamsun

Cinta – Anton Chekhov

Kisah Tanah – Sarah Ali (Gaza)

Sulak – Isaac Babel

Madu Lebah – Yoshimoto Banana

Pria dengan Codet di Wajah – William Somerset Maugham

Cyril – Umar Kayam