Blog bagi sesiapa yang mencintai tulisan

  • Gunting

    Karina Sainz Borgo Mereka tiba di Cúcuta tengah hari. Semua lapar kecuali si nenek. Ia bersandar di kursi, matanya terpaku pada langit-langit bus. Sejak mereka mulai melakukan perjalanan-perjalanan semacam ini, Herminia tua berhenti makan; ia takut putri dan cucunya akan meninggalkannya di jalan sepi dekat perbatasan. Ia menjadikan lapar sebagai bentuk perlindungan diri. Semula mereka…

    Read more: Gunting
  • Dalam Bayang-Bayang Perang

    Ben Okri Sore itu tiga serdadu datang ke desa. Mereka membuat kambing-kambing dan ayam-ayam berhamburan. Mereka pergi ke warung tuak dan memesan nira satu labu. Mereka minum di tengah lalat. Omovo memperhatikan mereka dari jendela sembari menunggu ayahnya pergi. Mereka berdua mendengarkan radio. Ayahnya membeli murah radio Grundig tua itu dari satu keluarga yang harus…

    Read more: Dalam Bayang-Bayang Perang
  • Sebuah Rumah dekat Laut

    Kamala Das Arumugham tidak heran ketika istrinya memukulnya di kepala saat mereka bertengkar, sebab itu sudah sering terjadi belakangan ini, mungkin sejak ia dipecat dari pekerjaannya sebagai penjaga malam setahun lalu karena mabuk. Perempuan itu memiliki hak penuh untuk memperlihatkan ketidaksukaannya dengan cara kasar, namun Arumugham kesal karena istrinya melakukannya di depan pemuda itu. “Suatu…

    Read more: Sebuah Rumah dekat Laut
  • Jalan Panjang Menuju Selamanya

    Kurt Vonnegut Mereka tumbuh bersebelahan, di pinggiran kota, dekat ladang dan hutan dan kebun buah, dan dari rumah mereka menara lonceng sekolah tunanetra terlihat jelas. Kini mereka dua puluh tahun, dan sudah hampir setahun tak saling bertemu. Hubungan mereka hangat dan akrab, tetapi tidak pernah ada pembicaraan tentang cinta. Si pemuda bernama Newt. Si gadis…

    Read more: Jalan Panjang Menuju Selamanya
  • “Mengapa Dia Menyerahkan Diri pada AI?”

    Seorang teman kecewa membaca tulisan terakhir orang yang selama ini ia kagumi tulisan-tulisannya. Ia mengirimkan pesan WA ke saya beberapa hari lalu. “Kenapa dia harus menyerahkan diri pada AI?” katanya. “Saya menyukai tulisan-tulisannya, dan dia menulis berkali-kali lipat lebih bagus ketimbang AI.” Dia mengatakan mudah sekali mengenali mana suara mesin dan mana suara manusia. Saya…

    Read more: “Mengapa Dia Menyerahkan Diri pada AI?”
  • Penulis seharusnya Mudah Bosan, seperti Halnya Kurator

    Beberapa hari ini tiba-tiba saya tertarik membaca buku tentang kurator seni. Hanya penambah wawasan. Saya tidak pernah menjadi kurator seni dan tidak sedang berpikir menjadi kurator. Dan, entah kenapa, saya merasa cara mereka berpikir dekat dengan cara saya menulis. Kurator bukan pencipta karya seni; ia orang yang memilih, menata, dan menyusun cerita dari serangkaian karya…

    Read more: Penulis seharusnya Mudah Bosan, seperti Halnya Kurator