Tetap Ingin Melihatmu Belajar Menulis

Halo, Bung, beberapa malam lalu ketika aku meneleponmu, aku memulai percakapan dengan, “Apakah masih ada orang yang ingin belajar menulis sekarang ini? Untuk tujuan apa?”

Jujur saja, itu pertanyaan yang cukup mengganggu pikiranku. Ia mulai muncul setelah seseorang menanyakan ke aku, “Masih perlukah kita belajar menulis ketika sudah ada AI?” Setelah itu, aku sering melihat penawaran: “Rahasia membikin prompt supaya tulisan mesin bisa terdengar seperti tulisan manusia.”

Rasa jengkel menumpuk pelan-pelan, dan aku menjadikanmu sarana penumpahan, sampai kamu mengingatkan: “Sudah satu setengah jam.”

Kadang aku mencoba bersikap dingin dan mengatakan kepada diriku sendiri: Terserah, sesuka kalian saja. Kamu belajar menulis atau tidak, itu urusanmu sendiri, bukan urusanku. Tapi aku bohong jika mengatakan aku tidak peduli. Aku peduli.

Aku masih ingin melihat orang-orang belajar menulis, sebab aku tahu betapa menyiksanya proses itu, tetapi dari sanalah orang mendapatkan keteguhan untuk bertahan dan pengalaman berharga untuk menjadikan diri kian cakap dari waktu ke waktu. Belajar dan berlatih, dalam bidang apa pun, tidak pernah menyenangkan. Belajar menulis akan memaksa otak, si pemalas yang sering mogok ini, untuk bekerja keras: mengingat detail yang mulai samar-samar atau ingin kita lupakan, mengamati lingkungan sekitar, menyambungkan dua hal acak yang tampaknya tidak berhubungan, belajar bernalar, membangun argumentasi, menyediakan bukti-bukti, menarik kesimpulan, dan sebagainya.

Sekarang, LLM menyodorkan jalan pintas yang sangat mempesona. Berpikir sendiri memang berat dan menguras tenaga, jadi untuk apa menyiksa diri jika sudah ada mesin yang bisa menyelesaikannya dalam beberapa detik?

Dan inilah yang membuatku sangat cemas: Belajar menulis akan memaksa orang membaca, jika mereka betul-betul ingin menulis lebih baik. Ketika mereka berhenti belajar, mereka berhenti membaca, berhenti ‘mencuri’ teknik dari para penulis hebat, dan akhirnya kita berisiko kembali ke zaman purba, zaman ketika pengetahuan hanya berputar melalui percakapan-percakapan lisan yang dangkal.

Mungkin kamu tertawa dan membatin, “Ya jelaslah kamu resah. Kamu membuka kelas menulis dan berjualan ebook.”

Tentu saja itu benar. Aku melakukan keduanya dan tidak akan membela diri dengan ‘tetapi’ untuk fakta itu. Aku ingin melihat orang belajar menulis dan memutuskan mulai membuka kelas menulis lebih dua puluh tahun lalu, menyewa dua ruangan ruko di Ciputat, karena sekolah-sekolah kita tidak melatih orang membaca, menulis, dan berpikir jernih. Aku tahu teknologi tidak bisa dihentikan, tetapi aku tidak mau kita kehilangan cara terbaik untuk memperbaiki kemampuan berpikir sendiri. Itu sebabnya aku masih ingin melihat orang-orang bersedia belajar menulis dan bergulat mengalahkan berbagai kesulitannya.

Melengkapi Bahan Belajar:
Dia Ingin, Tetapi…

Setiap penulis ingin disiplin menulis setiap hari, tetapi menemukan cerita setiap hari sering tidak mudah. Metode “Tetapi” membantu anda menemukan cerita dan merancang adegan-adegan paling kuat untuk cerita anda.

Lebih Lanjut ➔


One response to “Tetap Ingin Melihatmu Belajar Menulis”

  1. Rum Avatar
    Rum

    Belajar menulis akan memaksa otak, si pemalas sering mogok yang sudah mati dua belas tahun lalu terkubur di liang lahat peradaban, untuk bangkit kembali. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Saya menulis artikel dan surat-surat tentang penulisan kreatif hampir setiap hari. Jika ingin menerima surat-surat dan artikel berikutnya via email, sila masukkan email anda di sini.