Blog bagi sesiapa yang mencintai tulisan

  • Mengapa Kamu Menulis Ruwet?

    Halo D., Aku membaca cerpenmu semalam. Kamu menulis dengan tenaga, aku bisa merasakannya, tapi juga dengan beban yang tidak perlu. Setiap kalimat seolah-olah memaksa pembaca tahu bahwa kamu serius menulis. Aku paham dorongan itu. Hampir semua orang yang baru belajar menulis ingin terlihat bisa, ingin diakui, ingin membuat tulisan yang “berat.” Aku pernah pada posisimu.…

    Read more: Mengapa Kamu Menulis Ruwet?
  • Kegembiraan di Rumah Cerita

    Teman baikku, pecinta kata-kata, Di surat-surat terdahulu aku sudah menyampaikan tentang mengapa menulis, apa yang membuat tulisanmu indah, dan masih perlukah kita belajar menulis karena sekarang sudah ada AI yang bisa menghasilkan tulisan. Hari ini aku ingin menceritakan kabar baik. Ini tentang grup Facebook Rumah Cerita. Aku merasa seperti menemukan sesuatu yang lama kucari. Ada…

    Read more: Kegembiraan di Rumah Cerita
  • Apakah Tulisanmu Indah?

    Teman baikku, Apakah kamu ingin tulisanmu indah? Biasanya orang yang belajar menulis punya keinginan berkobar untuk membuat tulisan mereka indah, dan kebanyakan dari mereka keliru dalam upaya memperindah tulisan. Mereka menulis berbunga-bunga atau memburu rima. Itu cara yang keliru. Tulisan indah dimulai dari bunyinya. Setiap kalimat punya suara. Jika kamu membaca kalimatmu keras-keras, kamu akan…

    Read more: Apakah Tulisanmu Indah?
  • Mengapa Menulis?

    Teman baikku, Aku senang kamu tertarik pada penulisan dan selalu berminat belajar menulis. Kamu tahu, urusan tulis-menulis selalu memukau orang. Banyak orang ingin bisa menulis, tetapi sangat sedikit yang punya daya tahan untuk belajar. Sementara mereka yang sudah menulis sering mengeluhkan bahwa menulis tidak bisa memberi kehidupan yang layak. Dan sekarang muncul pertanyaan baru: Untuk…

    Read more: Mengapa Menulis?
  • Layar Sudah Ditutup

    Teman baikku, Kamu merasa ragu? Langkahmu baru setengah jalan dan layar sudah ditutup? Selamat datang di klub. Kita di perahu yang sama, dihantui pertanyaan yang sama: “Untuk apa belajar menulis jika media berguguran, tulisan tidak dibayar, dan orang lebih suka menonton video singkat ketimbang membaca?” Pertanyaan itu seperti pukulan keras. Rasanya seperti baru menempuh satu…

    Read more: Layar Sudah Ditutup
  • Serenada Pipiet Senja

    A.S. Laksana Saya membaca satu novelnya di masa kanak-kanak dan menyukai novel itu dan terus mengingat nama penulisnya sampai sekarang. Judulnya apa, saya lupa. Tetapi saya menyukainya karena novel itu membuat saya menangis. Di masa kanak-kanak saya menyukai novel-novel yang membuat saya menangis. Bertahun-tahun kemudian, ketika saya mulai membaca Rendra, saya pernah melakukan pencarian sia-sia…

    Read more: Serenada Pipiet Senja