Dialog itu Senjata, bukan Transkrip Obrolan

Halo, Mbak, ini tentang dialog di dalam naskahmu dan aku harus jujur mengatakannya. Begini…, seandainya karakter-karaktermu berdialog di dunia nyata dengan cara seperti itu, mereka pasti sudah diusir dari kedai tempat mereka duduk. Tahu kenapa? Karena dialog mereka membuat para pelanggan lain tertidur lelap sebelum sempat memesan apa pun.

Dalam tulisanmu, salah satu tokoh bertamu ke rumah teman lama dan mereka menghabiskan banyak baris untuk berbalas salam, menanyakan kabar, kapan datang, sudah lama tidak ketemu, kapan akan balik lagi ke Jakarta. Itu transkrip obrolan, bukan dialog.

Pelajaran penting dalam penulisan cerita adalah kamu memahami dialog sebagai tindakan verbal (verbal action).

Dalam kehidupan nyata orang-orang boleh saja mengobrol semalam suntuk tanpa membuat perubahan apa pun, tetapi orang-orang di dalam fiksi tidak akan melakukan hal semacam itu. Dalam fiksi, setiap kali tokoh-tokohmu buka mulut, mereka harus sedang melakukan sesuatu: menyerang lawan bicara, menyembunyikan rasa takut, memanipulasi keadaan, mempertahankan harga diri, atau merebut kendali atas situasi. Kata-kata mereka menjadi pedang, tameng, atau jaring perangkap—bukan sekadar gelembung sabun yang melayang ke sana kemari tanpa arah.

Bandingkan dua contoh ini:

Tokoh A berkata, “Aku sangat marah padamu karena kamu terlambat lagi.” Itu bukan tindakan verbal; itu pengumuman biasa saja. Tetapi jika si A melihat arlojinya, tersenyum dingin, lalu berkata, “Senang melihatmu akhirnya datang, setidaknya ini belum jam makan siang,” itu berarti tokoh A sedang melakukan tindakan: ia menyindir, memamerkan kekuasaan, dan memojokkan lawan bicara.

Dialog akan lebih hidup jika memiliki kontras antara apa yang diucapkan dan apa yang sebenarnya disasar (subteks). Drama dan ironi sering lahir ketika karakter memperlakukan hal sepele dengan sangat serius atau memperlakukan krisis besar dengan nada santai.

Tiga hal di bawah ini bisa kamu jadikan bahan pengingat:

Pertama, hapus basa-basi pembuka. Buang jauh-jauh kalimat “Halo”, “Selamat pagi”, dan “Apa kabar”, kecuali jika salam itu diucapkan oleh seseorang sambil menodongkan pistol.

Kedua, uji iramanya secara lisan. Pikirkan dialog sebagai musik dan baca dialogmu dengan bersuara agar telingamu sendiri mendengar apakah ketukannya sudah terasa alami atau lidahmu sendiri tersendat-sendat ketika mengucapkannya.

Ketiga, untuk banyak situasi, pastikan ada perebutan kendali, sehalus apa pun. Mereka tidak harus saling membentak, tidak harus harfiah menyampaikan keinginan masing-masing untuk menundukkan lawan bicara, tetapi harus ada yang berusaha menang dan ada yang berusaha bertahan.

Jadi, mulai sekarang, jangan biarkan karaktermu hanya ‘mengobrol’—mereka harus bertarung dengan kata-kata.[]

Melengkapi Bahan Belajar:
DIALOG

Dialog yang lebih baik pastilah dikerjakan dengan cara yang lebih baik, oleh penulis yang memahami cara menyusun struktur dan pertarungan hasrat tokoh.

Lebih Lanjut ➔


One response to “Dialog itu Senjata, bukan Transkrip Obrolan”

  1. Jusuf Fitroh Avatar

    (((Subteks)))

    Sungguh, masih kemarin, seorang teman mengatakan bahwa tulisanku kurang subteks dan karenanya menjadi sangat membosankan. Itu dikatakan di depanku tanpa tedeng aling-aling.

    Tak kusangka, kataku padanya, menulis cerita sederhana sehari-hari pun perlu pakai otak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Saya menulis artikel dan surat-surat tentang penulisan kreatif hampir setiap hari. Jika ingin menerima surat-surat dan artikel berikutnya via email, sila masukkan email anda di sini.