Tag: tokoh publik
-
Ngũgĩ wa Thiong’o Memerangi Kolonisasi Bahasa
A.S. Laksana “Jika kamu tidak mampu berbicara dengan ibumu dalam bahasa yang kamu pakai untuk menulis puisi, maka puisimu kehilangan nyawanya.” — Di kaki bukit Limuru, 30 kilometer di barat laut Nairobi, Kenya, di antara kebun-kebun teh, Wanjikũ menggandeng tangan anak lelakinya pagi itu menuju sekolah. Ibu dan anak sama-sama telanjang kaki, dan mereka memasuki…
-
Imam Aziz, Lelaki Pendiam Penyembuh Luka
A.S. Laksana Pada 1997, dalam status pengangguran terselubung setelah tahun ketiga pembredelan tabloid DeTIK, Saifullah Yusuf mengajak saya ke Rembang, menginap semalam di sana, dan keesokan harinya kami berkunjung ke pondok KH Sahal Mahfudh di Kajen, Pati, menyusul Imam Aziz dan rombongan dari Jogja yang pada hari sebelumnya juga ke Rembang. O, ini orangnya, pikir…
-
Tan Joe Hok, Orang Indonesia Pertama
A.S. Laksana “Tan Joe Hok Menaklukkan Detroit”, tulis Sports Illustrated, majalah mingguan olahraga Amerika Serikat, edisi 13 April 1959. Artikel itu melaporkan kehebatan lima pemuda dari Timur Jauh dalam kejuaraan bulutangkis amatir terbuka yang diikuti 170 peserta, dan Tan Joe Hok, pemuda Bandung berumur 21 tahun, adalah tokoh utamanya. Ia baru menjuarai All England tiga…
-
Har Wib, Memimpikan Barça dalam Politik Indonesia
A.S. Laksana Ia menulis status Facebook terakhirnya, pada 27 April 2025, ringkas saja: “3:2 = Konde”. Itu skor kemenangan Barcelona atas Real Madrid dalam El Clásico yang harus dikabarkan. Dan harus dirayakan. Ia mencintai Barcelona karena pada klub itu ia melihat bentuk nyata dari sesuatu yang ia impikan, dan kemenangan Barça atas Madrid, baginya, selalu…
-
Fransiskus, Sang Gembala dengan Bau Domba
A.S. Laksana Pada malam 13 Maret 2013, ketika ia pertama kali muncul di balkon Basilika Santo Petrus, Vatikan, setelah terpilih sebagai Uskup Roma ke-266, Jorge Mario Bergoglio tidak mengangkat tangannya untuk memberkati. Ia berkata “Buona sera”—selamat malam—dan membungkuk, meminta orang-orang memberkatinya. Gestur itu sederhana dan memukau. Malam itu, orang menyaksikan kepausan yang tidak menampilkan keagungan,…
-
Atmakusumah, Pembela Pers yang Tak Pernah Goyah
A.S. Laksana SAYA hanya satu kali bertemu dengannya, pada 1999, ketika ia datang ke kantor tabloid DeTAK di kompleks stadion Lebak Bulus untuk memenuhi undangan diskusi internal dengan tim redaksi. Atmakusumah Astraatmadja seperti air yang mengalir tenang. Ia menyimak sungguh-sungguh ketika orang lain bicara, dan, di kantor kami sore itu, ia bicara dalam suara lembut…