Reformasi (1998-2025)

A.S. Laksana

Telah meninggal dunia dengan tidak tenang, sebuah cita-cita yang dulu pernah membebaskan Indonesia.

*

Ia lahir sulit, sebab rezim tidak menghendakinya. Itu rezim yang sudah tua, terlalu lama berkuasa, dan brutal terhadap mereka yang mengupayakan kelahirannya. Para aktivis diculik dan sebagian tidak pernah kembali; sejumlah mahasiswa ditembak mati karena menginginkan pemerintahan yang lebih sehat; kerusuhan terjadi, penjarahan terjadi, dan ada banyak perempuan menjadi korban pemerkosaan.

Dan ia lahir setelah semua kengerian itu, cantik, seperti matahari pagi yang terbit untuk mengusir mimpi buruk. Untuk kali pertama rakyat merasa menang. Rezim telah ditumbangkan, militer ditarik ke barak, harapan melambung terhadap tegaknya hukum, penguasa yang menindas dan para kroninya akan diadili, tidak ada lagi kekuasaan tanpa batas, negara akan bersih dari korupsi.

Dalam tahun-tahun awalnya, semua harapan itu terasa mungkin. Militer kembali ke barak, pers menikmati kebebasan dan tumbuh liar, partai-partai bermekaran, Golkar memecah diri menjadi banyak partai, dan warga boleh bicara tanpa takut dibungkam. Ada perasaan lega yang meluas bahwa negara ini telah berubah arah.

Tentu tidak semua harapan bisa terwujud dalam semalam, tidak semua tuntutan bisa dijalankan secepatnya. Segala sesuatu berjalan dengan waktunya sendiri-sendiri, pelan-pelan, tak bisa dipaksakan, dan beberapa tahun kemudian … sebagian besar harapan kandas.

Pemerintahan tetap korup, hukum masih bengkok, dan politik secara umum tetap tengik, dan makin tengik.

Reformasi, bayi yang lahir cantik pada 1998, dalam beberapa tahun saja memperlihatkan gejala bahwa ia tumbuh invalid, sering sesak napas, dan terabaikan. Dan ia wafat dua puluh tujuh tahun kemudian, pada 10 November 2025, dengan dikeluarkannya secarik keputusan negara. Soeharto, yang dalam tuntutan Reformasi seharusnya diadlili, yang oleh para mahasiswa dianggap sebagai sumber utama mengakarnya korupsi, kolusi, dan nepotisme (SDSB “Soeharto Dalang Segala Bencana,” kata aktivis mahasiswa Nuku Soleiman), ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Negara akhirnya memberi mahkota kehormatan kepada penguasa yang memenjarakan, membungkam, menculik, dan menembak rakyatnya.

Tepat pada saat itulah Reformasi mati. Tidak, ia tidak mati mendadak. Ia sakit lama. Ia mulai lemah ketika korupsi kembali dianggap lumrah, ketika aparat kembali kebal, ketika media kembali takut menyinggung kekuasaan. Ia kehilangan daya hidupnya ketika pemerintah berniat menulis ulang sejarah dan menyangkal apa yang pernah terjadi sebagai “narasi adu domba”, “tidak ada bukti”, dan laporan-laporan pelanggaran HAM hanyalah “bersifat parsial.”

Dan sejarah sudah ditulis ulang. Ia, yang selama puluhan tahun menjadi lambang kekuasaan absolut, kini harus disapa “pahlawan” oleh republik yang dulu menggulingkannya. Tak ada pengadilan sejarah yang lebih ironis dari itu dalam riwayat hidup Indonesia, tak ada kematian yang lebih tragis selain kematian Reformasi.

“Pro-kontra boleh-boleh saja,” kata pendukungnya, “tetapi jangan ekstrem.”

Kalimat itu sopan, bernada moderat, menganjurkan kewarasan berpikir dan kesanggupan untuk menjaga keseimbangan—jangan ekstrem, katanya. Artinya, kalian terima saja Pak Harto adalah pahlawan kalian. Jangan persoalkan masa lalu terlalu keras.

Pro-kontra, katanya. Seolah-olah pelanggaran HAM berat hanya urusan pro-kontra.

Selamat jalan, Reformasi 1998. Ia lahir sulit, dan ia lahir dengan banyak pengorbanan, lalu ia tumbuh dalam kebingungan, menua dalam kompromi, dan akhirnya mati dalam ironi.[]



3 responses to “Reformasi (1998-2025)”

  1. Dirga Moscati Avatar
    Dirga Moscati

    Superrr

  2. Rudi Rustiadi Avatar
    Rudi Rustiadi

    Rudi Rustiadi

  3. suarakata Avatar
    suarakata

    pd paragraf ke 9 seketika terlintas diingatan saya mngenai scene one piece arc wano, ketika wano dicengkeram oleh kaido dan shogunnya diberikan kpd klan kurozumi orochi yg mana banyak sejarah negri wano yg dirubah ketika kepemimpinan shogun tsb, generasi muda dasar yg mana mereka belum bisa bernalar dg baik dan harus dicekoki sejarah yg ngawur (bukan sejarah Jepang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Saya menulis artikel dan surat-surat tentang penulisan kreatif hampir setiap hari. Jika ingin menerima surat-surat dan artikel berikutnya via email, sila masukkan email anda di sini.