O. Henry

Cerpen ini adalah karya terakhir O. Henry. Majalah Cosmopolitan memesannya dan, setelah kematiannya, manuskrip yang belum rampung ditemukan di kamarnya. Cerita ini dimuat dalam Cosmopolitan, September 1910.
—
MURRAY memimpikan sebuah mimpi.
Baik psikologi maupun sains masing-masing berspekulasi ketika akan menjelaskan kepada kita petualangan aneh pada diri immaterial saat berkelana di wilayah “saudara kembar kematian”—tidur. Cerita ini tidak akan mencoba menjernihkan; ia tidak lebih dari catatan atas mimpi Murray. Salah satu fase paling membingungkan dari pengalaman itu adalah bahwa mimpi-mimpi yang tampaknya berlangsung berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun mungkin terjadi hanya beberapa detik atau beberapa menit.
Murray sedang menunggu di selnya di ruang tahanan bagi orang-orang yang dinyatakan bersalah. Sebuah bola lampu listrik di langit-langit koridor mengirimkan cahaya terang ke atas mejanya. Di atas secarik kertas putih seekor semut merangkak liar ke sana kemari ketika Murray menghadang langkahnya dengan sebuah amplop. Kursi listrik sudah disiapkan untuk eksekusi pukul delapan pagi nanti. Murray tersenyum pada keanehan yang paling bijak dari serangga-serangga.
Ada tujuh terhukum lain di dalam ruangan. Sejak masuk, Murray sudah menyaksikan tiga orang digiring keluar menemui takdir mereka; satu orang menjadi gila dan meronta-ronta seperti serigala terperosok ke dalam perangkap; satu orang, tidak kalah gilanya, mengeluarkan puji-pujian munafik ke Surga; orang ketiga, lemah sekali, pingsan dan diseret ke tempat eksekusi. Ia heran pada dirinya sendiri atas ketenangan jantungnya, kakinya, dan paras mukanya yang akan menghadapi hukuman; padahal sekarang sudah petang. Ia pikir pasti sudah hampir pukul delapan.
Di depan selnya, di dua deretan sel adalah kurungan Bonifacio, orang Sisilia yang membunuh tunangannya dan dua orang opsir yang datang untuk menangkapnya. Dengannya Murray sering bermain dam lama sekali, masing-masing meneriakkan langkahnya kepada lawan yang tidak kelihatan di seberang koridor.
Bonifacio berteriak dengan suara yang bagai ledakan bom, dengan kualitas nyanyian yang tak tertandingi:
“Eh, Tuan Murray; bagaimana perasaanmu—semua beres—kan?”
“Tak ada soal, Bonifacio,” kata Murray mantap, membiarkan semut merayap naik ke amplop dan kemudian melemparkannya hati-hati ke lantai.
“Itu baaagus, Tuan Murray. Lelaki seperti kiiita, kita haruuus mati seperti laki-laki. Giliranku akan tibaaa minggu depan. Semua baik-baik. Iiingat, Tuan Murray, aku mengalahkanmu pada permainan dam terakhirrr. Mungkin kita akan bermain lagi lain waktu. Aku tak tahu. Mungkiiin kita akan meneriakkan langkah kita keras-keras saat bermain di tempat di mana mereka mengiriiimkan kita.”
Filsafat keras Bonifacio, diikuti dengan bising tawanya yang memekakkan, membuat hangat dan sama sekali tidak menggigilkan hati gersang Murray. Namun, Bonifacio punya waktu hidup hingga minggu depan.
Para penghuni sel mendengar denting keras baja yang sudah biasa bagi telinga mereka tatkala pintu di ujung koridor dibuka. Tiga orang datang ke sel Murray dan membukanya. Dua penjaga penjara; satu lagi adalah “Len” — bukan; itu di masa lalu; sekarang Pendeta Leonard Winston, seorang kawan dan tetangga masa kecilnya.
“Aku mengajak mereka mengikutiku ke ruang berdoa di penjara ini,” ia berkata, saat ia menjabat tangan Murray kuat-kuat. Di tangan kirinya ia memegang kitab Injil, dengan jari telunjuknya menandai halaman.
Murray tersenyum tipis dan menyusun dua atau tiga buku dan beberapa tangkai pena dengan rapi di meja kecilnya. Ia ingin bicara, namun tidak ada kalimat yang tampaknya bisa tepat mewakili apa yang ada dalam pikirannya.
Para tahanan menamai penjara ini, yang panjangnya 80 kaki dan lebarnya 28 kaki, Limbo Lane. Penjaga sehari-hari Limbo Lane ini, lelaki besar, kasar, dan penuh pengertian, mengeluarkan sebotol wiski ukuran satu pint dari kantungnya dan menawarkannya pada Murray seraya berkata: “Ini sesuatu yang biasa, tahu kau. Semua membutuhkan ini sebagai pemompa semangat. Tak ada bahayanya sama sekali berkawan dengan barang ini, tahu kau?”
Murray menenggak banyak-banyak minuman dari botol itu.
“Itulah laki-laki!” kata penjaga. “Hanya minuman penenang, dan segala sesuatunya akan menjadi selembut sutera.”
Mereka menyusuri koridor, masing-masing dari tujuh orang yang menunggu giliran itu segera tahu. Limbo Lane adalah sebuah wilayah di luar dunia; sebuah wilayah yang bisa merontokkan satu atau dua indra, dan para penghuninya harus menemukan sendiri cara untuk mengatasi kerusakan itu. Setiap orang tahu bahwa sekarang hampir pukul delapan, dan bahwa Murray harus ada di kursinya pada pukul delapan. Ada juga di berbagai Limbo Lane sebentuk aristokrasi kejahatan. Seseorang yang membunuh di tempat terbuka, yang memukul jatuh musuh atau pengejarnya, yang dikuasai oleh emosi primitif dan semangat bertempur, akan dihinakan setara dengan tikus, laba-laba, dan ular.
Maka, dari tujuh terhukum hanya tiga yang menyampaikan salam perpisahan kepada Murray saat ia melangkah menyusuri koridor diapit oleh dua orang sipir — Bonifacio, Marvin, yang membunuh seorang sipir ketika mencoba lari dari penjara, dan Bassett, perampok kereta api, yang terdorong membunuh karena kurir kereta ekspres itu tidak mengangkat tangan ketika diperintahkan angkat tangan. Empat orang sisanya merasa tertekan dan membisu di sel mereka, meyakini bahwa pengasingan mereka di Limbo Lane adalah sesuatu yang lebih mengiris tinimbang pelanggaran hukum yang bisa mereka ingat telah mereka lakukan.
Murray heran sendiri pada ketenangan dan perasaannya yang biasa-biasa saja. Di ruang eksekusi ada sekitar dua puluh orang, doa bersama dilakukan oleh opsir-opsir penjara, reporter surat kabar, dan para penonton yang bisa masuk.
Sampai pada kalimat ini, tangan kematian memotong jalannya cerita terakhir O. Henry. Ia telah merencanakan cerita ini berbeda dari cerita-ceritanya yang lain, awal dari sebuah gaya yang tidak pernah dia coba sebelumnya. “Aku ingin menunjukkan kepada publik,” katanya “bahwa aku dapat menulis sesuatu yang baru—baru bagiku, itu yang kumaksud—sebuah cerita tanpa slang, dengan alur dramatik yang sederhana, dengan mempertahankan cara yang akan mendekatkan gagasanku tentang bagaimana sesungguhnya penulisan cerita.” Sebelum mulai menuliskan cerita ini, ia membuat sketsa ringkas bagaimana cerita itu akan ia kembangkan: Murray, penjahat yang dituduh dan dinyatakan bersalah dalam pembunuhan brutal terhadap kekasihnya—sebuah pembunuhan cepat karena rasa cemburu—pada mulanya menghadapi hukuman mati dengan tenang dan, dalam seluruh penampilannya, tak peduli terhadap nasibnya.
Saat ia mendekati kursi listrik ia dikalahkan oleh perubahan perasaan yang mengguncangnya secara tiba-tiba. Ia menjadi kacau, kalut, dan linglung. Seluruh pemandangan di ruang kematian—saksi mata, para penonton, persiapan eksekusi—menjadi samar-samar baginya. Ia tiba-tiba merasa sebuah kejahatan yang mengerikan sedang dijalankan. Mengapa ia diikat di kursi? Apa yang telah dilakukannya? Kejahatan apa yang telah dilakukannya? Dalam beberapa momen ketika ikatan dikencangkan sebuah khayalan datang padanya. Ia memimpikan sebuah mimpi. Ia menyaksikan sebuah rumah penginapan di desa, matahari bersinar terang menyelimuti penginapan yang penuh bunga itu. Ada seorang perempuan di sana dan seorang anak kecil. Ia bercakap dengan perempuan itu dan menemukan kenyataan bahwa mereka adalah anak dan istrinya – dan penginapan itu adalah rumahnya. Maka, setelah itu, terjadilah sebuah kesalahan. Seseorang telah melakukan blunder yang mengerikan dan tak bisa diperbaiki. Tuduhan itu, pengadilan itu, putusan hakim itu, hukuman mati dengan kursi listrik itu—semuanya adalah mimpi. Ia menggandeng tangan istrinya dan mencium anaknya. Ya, di sinilah kebahagiaan. Itulah mimpi.
Kemudian, bersamaan dengan sinyal yang diberikan oleh kepala penjara, kekinian yang fatal berlangsung. Murray telah memimpikan impian yang keliru.
—
*) Diterjemahkan oleh A.S. Laksana, disalin dari buku Untuk Dia yang Menunggu (akubaca, 2003).
Menulis Cerpen Cepat & Mudah
Selalu penting untuk menambah teknik baru. Para penulis yang baik selalu memiliki kekayaan teknik, karena itulah mereka menjadi penulis yang baik.
Lebih Lanjut ➔
Leave a Reply