Naguib Mahfouz

KABAR penting segera menyebar bahwa kepala sekolah baru telah tiba. Ia mendengarnya di ruang guru perempuan saat sedang melihat jadwal pelajaran hari itu. Tak ada jalan untuk menghindar dari bergabung dengan para guru lain yang akan mengucapkan selamat; tak ada cara menghindari jabat tangan. Suatu getaran menjalari tubuhnya, tetapi itu tak terelakkan.
“Orang-orang memuji kemampuannya,” kata seorang rekannya. “Mereka juga mengatakan dia tegas.”
Kemungkinan itu memang bisa terjadi, dan kini benar-benar terjadi. Wajah cantiknya memucat, dan sebuah tatapan kosong muncul di mata hitamnya yang lebar.
Ketika waktunya tiba, para guru masuk satu per satu, dalam pakaian rapi, ke ruangannya yang terbuka. Orang itu berdiri di belakang mejanya saat menerima para guru lelaki dan perempuan. Tingginya sedang, tubuhnya cenderung berisi, wajahnya bulat, hidungnya bengkok, dan matanya menonjol; hal paling mencolok pada orang itu adalah kumis tebal yang mengembang dan melengkung seperti gelombang berbuih. Ia melangkah maju dengan pandangan tertuju ke dada lelaki itu. Sambil menghindari tatapan, ia mengulurkan tangan. Apa yang harus ia katakan? Cukup seperti yang diucapkan orang-orang sebelumnya? Namun ia hanya diam, mengucapkan tidak sepatah kata. Apa, pikirnya, yang diungkapkan oleh mata lelaki itu? Tangan kasar kepala sekolah menjabat tangannya, dan dengan suara serak orang itu berkata, “Terima kasih.” Ia berbalik dengan gerak anggun dan berlalu.
Ia mengubur kegelisahannya melalui pekerjaan sehari-hari, meski wajahnya tampak kurang segar. Beberapa murid perempuan berbisik, “Ibu guru sedang tak enak hati.” Saat ia pulang ke rumahnya di awal Jalan Piramida, ia berganti pakaian dan duduk makan bersama ibunya. “Semua baik-baik saja?” ibunya bertanya sambil memandangi wajahnya.
“Badran, Badran Badawi,” katanya singkat. “Masih ingat dia? Dia diangkat menjadi kepala sekolah kami.”
“Benarkah!”
Lalu, setelah diam sejenak, ia berkata, “Tak penting sama sekali—itu cerita lampau yang sudah lama terlupakan.”
Seusai makan, ia masuk ke ruang kerjanya untuk beristirahat sebentar sebelum memeriksa buku-buku latihan. Ia sudah melupakan orang itu sepenuhnya. Tidak, tidak sepenuhnya. Bagaimana mungkin orang itu bisa benar-benar dilupakan? Saat lelaki itu pertama kali datang memberi les privat matematika, ia empat belas tahun. Bahkan belum genap empat belas. Orang itu dua puluh lima tahun lebih tua darinya, sebaya dengan ayahnya. Kepada ibunya ia pernah berkata, “Penampilannya berantakan, tapi penjelasannya bagus.” Dan ibunya menjawab, “Kita tak peduli seperti apa penampilannya; yang penting caranya menjelaskan.”
Orang itu menyenangkan, dan ia cocok dengannya dan belajar banyak darinya. Lalu bagaimana semua itu bisa terjadi? Dalam kepolosannya, ia tak melihat perubahan dalam sikap orang itu yang seharusnya membuat ia waspada. Lalu suatu hari ia ditinggal berdua dengannya, ayahnya pergi ke klinik bibinya. Ia tak menaruh curiga sedikit pun pada orang yang ia anggap sebagai ayah kedua. Lalu bagaimana itu bisa terjadi? Tanpa cinta atau keinginan darinya, peristiwa itu terjadi. Dengan gemetar ia bertanya tentang apa yang telah terjadi, dan lelaki itu berkata, “Jangan takut atau sedih. Simpan ini untuk dirimu sendiri, dan aku akan datang melamarmu pada hari kamu cukup umur.”
Dan orang itu menepati janjinya, datang melamar. Saat itu ia sudah cukup matang untuk memahami posisi tragisnya. Ia menyadari bahwa ia tak memiliki cinta atau rasa hormat sedikit pun kepada orang itu, dan bahwa lelaki itu sama sekali jauh dari impiannya, jauh dari gambarannya tentang pribadi yang ideal dan bermoral. Namun apa yang bisa dilakukan? Ayahnya telah meninggal dua tahun sebelumnya, dan ibunya terkejut oleh keberanian lelaki itu. Meski begitu, ibunya berkata kepadanya, “Aku tahu kamu menjunjung kebebasan, jadi kamu sendiri yang memutuskan.”
Ia sadar betul betapa genting posisinya. Ia harus menerima, atau menutup pintu selamanya. Situasi seperti ini bisa memaksanya pada sesuatu yang ia benci. Ia gadis kaya dan cantik, dikenal di Abbasiyya karena keluhuran budi pekertinya, dan kini ia terjerat tanpa daya dalam perangkap yang dipasang rapi, sementara lelaki itu menatapnya dengan mata rakus. Sebagaimana ia membenci kekuatan lelaki itu, ia juga membenci kelemahannya sendiri. Memanfaatkan kepolosannya adalah satu hal, tetapi jika orang itu ingin memegang kendali atas dirinya sekarang, saat ia sudah sepenuhnya sadar dan mampu berpikir, itu soal lain. Orang itu berkata, “Jadi aku datang sekarang, menepati janji karena aku mencintaimu.” Orang itu juga berkata, “Aku tahu kamu mencintai dunia pengajaran, dan kamu akan melanjutkan studi di Fakultas Sains.”
Ia merasakan amarah yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia menolak paksaan sebagaimana ia menolak keburukan rupa. Tak ada masalah kalaupun ia harus berkorban tidak menikah selamanya. Ia akan menyambut hangat kesendirian, sebab kesendirian yang didasari harga diri bukanlah kesepian. Ia juga menduga orang itu mengincar hartanya. Kepada ibunya ia berkata terus terang, “Tidak,” dan ibunya menjawab, “Aku heran mengapa kamu tidak memutuskan ini sejak awal.”
Orang itu mencegatnya di luar dan berkata, “Bagaimana mungkin kamu menolak? Tidakkah kamu menyadari akibatnya?” dan ia menjawab, “Bagi saya, semua akibat tetap lebih baik ketimbang menikah denganmu.”
Setelah menyelesaikan kuliah, ia berniat melakukan sesuatu untuk mengisi waktu luang, maka ia bekerja sebagai guru. Kesempatan untuk menikah datang berulang kali, tetapi semuanya ia tolak.
“Tak ada satu pun yang kamu sukai?” tanya ibunya.
“Aku tahu apa yang kulakukan,” katanya lembut.
“Tapi waktu terus berjalan.”
“Biarlah ia berjalan sesukanya, aku puas begini.”
—
Hari demi hari ia bertambah tua. Ia menghindari cinta; ia takut pada cinta. Dengan sekuat tenaga ia berharap hidup berjalan tenang dan damai; ia tak berharap bahagia. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa kebahagiaan tidak hanya ada dalam mengalami cinta dan menjadi ibu. Tak pernah ia menyesali keputusannya. Siapa bisa tahu apa yang bakal terjadi besok? Namun ia benar-benar tak senang bahwa orang itu kembali muncul dalam hidupnya, bahwa ia harus berurusan dengannya hari demi hari, dan bahwa masa lalu akan hidup lagi sebagai masa kini yang menyakitkan.
Lalu, pada kali pertama ia masuk ke ruangan kepala sekolah, orang itu bertanya, “Apa kabar?”
Ia menjawab dingin, “Saya baik-baik saja.”
Orang itu ragu sejenak sebelum bertanya lagi, “Apakah kamu belum… maksudku, apakah kamu sudah menikah?” Dengan nada orang yang ingin secepatnya mengakhiri percakapan, ia berkata, “Saya sudah bilang, saya baik-baik saja.”[]
—
*) Diterjemahkan oleh A.S. Laksana, dari versi Inggris “The Answer is No” dalam kumpulan cerpen Naguib Mahfouz The time and the place and other stories, terjemahan Denys Johnson-Davies.

Leave a Reply