Cinta yang Menakutkan

Kawabata Yasunari

Ia mencintai istrinya begitu mendalam. Dengan kata lain, ia mencintai satu wanita ini secara berlebihan. Ia menganggap kematian istrinya di usia muda sebagai hukuman dari langit atas cintanya. Hanya itulah satu-satunya penjelasan yang bisa ia dapatkan tentang kematian istrinya.

Setelah istrinya meninggal, ia menjauhkan diri dari wanita mana pun. Ia bahkan tidak mau mempekerjakan wanita untuk mengurus rumahnya; ia memilih mempekerjakan laki-laki untuk memasak dan membersihkan rumah. Itu bukan karena ia membenci semua wanita, melainkan karena setiap wanita selalu mengingatkannya kepada istrinya. Sebagai contoh, baginya setiap wanita memiliki bau seperti ikan, persis dengan bau istrinya dulu. Sembari bertanya-tanya apakah perasaan ini pun merupakan hukuman dari langit atas cintanya yang berlebihan, ia pun pasrah menjalani hidup tanpa kehadiran seorang wanita.

Namun, di rumahnya tinggal seorang wanita yang tidak bisa ia hindari. Ia memiliki seorang putri. Dan, tentu saja, putrinya lebih mirip mendiang istrinya dibandingkan wanita mana pun di dunia ini.

Gadis itu mulai masuk sekolah menengah.

Suatu malam, saat lampu di kamar gadis itu menyala, ia mengintip melalui celah pada sekat geser. Putrinya memegang gunting kecil. Dengan lutut ditekuk dan dibuka lebar, gadis itu menggunakan gunting, wajahnya menunduk dalam waktu lama. Keesokan harinya, setelah gadis itu berangkat ke sekolah, ia gemetar saat diam-diam menatap bilah gunting yang berwarna putih itu.

Pada malam lain, lampu di kamar gadis itu kembali menyala. Ia mengintip melalui celah sekat. Putrinya melipat sehelai kain putih dan membawanya keluar kamar. Ia bisa mendengar suara air mengalir. Sesaat kemudian, gadis itu menyalakan api pada tungku, meletakkan kain putih di atasnya, dan duduk di sampingnya. Lalu gadis itu menangis tersedu-sedu. Setelah berhenti menangis, gadis itu mulai memotong kuku-kukunya di atas kain tersebut. Potongan-potongan kuku berjatuhan saat si gadis menyingkirkan kain itu. Bau kuku terbakar membuatnya mual.

Ia bermimpi. Ia bermimpi bahwa mendiang istrinya memberi tahu putrinya bahwa ia telah melihat rahasia gadis itu.

Putrinya tidak lagi memandang wajahnya. Ia tidak mencintai putrinya itu. Ia gemetar membayangkan bahwa kelak akan ada pria yang dihukum oleh langit karena mencintai gadis ini.

Akhirnya, pada suatu malam, dengan belati di tangan, gadis itu melirik tenggorokan ayahnya. Ayahnya menyadari itu. Ia memejamkan mata dengan pasrah. Inilah hukuman karena mencintai istri begitu mendalam, karena mencintai seorang wanita secara berlebihan. Tahu bahwa gadis itu akan menyerang musuh ibunya, ia pun menantikan belati itu.

—

*) Diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari versi Inggris oleh oleh J. Martin Holman dalam kumpulan The Dancing Girl of Izu.

*

Kawabata Yasunari (1899 – 1972 ) adalah penulis Jepang pertama yang memenangi Penghargaan Nobel Sastra. Ia menerimanya pada 1968. Komite Nobel memuji keberhasilannya menangkap keindahan, tradisi, dan spiritualitas Jepang dan menyajikannya dalam bentuk sastra modern yang memikat dunia internasional. Tiga karya utama yang menjadi acuan Komite adalah Daerah Salju, Seribu Bangau, dan Ibukota Lama.

Tetapi, berlawanan dari Komite Nobel yang menjadikan novel-novelnya sebagai alasan penghargaan, Kawabata sendiri lebih menyukai fiksi-fiksi mikronya, yang ia namai “Cerita-Cerita Telapak Tangan”, sebab cerita-cerita itu sangat singkat, dan secara harfiah cukup ringkas untuk dituliskan di telapak tangan. Berkali-kali ia menegaskan bahwa cerpen-cerpen telapak tangan inilah karya yang paling ia cintai dan paling jujur mewakili jiwanya.

“Banyak penulis menulis puisi di masa muda mereka,” katanya. “Saya tidak menulis puisi. Saya menulis cerita-cerita telapak tangan … Jiwa puitis masa muda saya tetap hidup di dalamnya.”

Melalui cerita-cerita telapak tangan, yang mulai ia tulis pada 1920-an (jauh sebelum orang menemukan nama fiksi mikro atau fiksi kilat), Kawabata ingin membawa prinsip Haiku dan lukisan arang Zen (Sumi-e) ke dalam prosa fiksi, demi mencapai kepadatan liris, untuk mengungkapkan emosi raksasa dengan cara tidak menyatakannya. Dalam “Cinta yang Menakutkan”, ia memadatkan pengalaman pubertas anak gadis dan dosa incest ayahnya hanya dalam tiga ratusan kata dan tanpa menyebut sama sekali dua hal itu.

Tiga bulan sebelum kematiannya, Yasunari melakukan percobaan radikal dengan meringkas novel puncaknya Daerah Salju (Yukiguni/Snow Country) menjadi cerpen kilat berjudul Yukiguni Shō, yang diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul Gleanings from Snow Country. Di mata para kritikus, tindakan ini membuktikan sekali lagi bahwa bagi Yasunari fiksi mikro adalah bentuk seni tertingginya. “Cinta yang Menakutkan” adalah salah satu cerita telapak tangan Yasunari.

Melengkapi Bahan Belajar:
Dia Ingin, Tetapi…

Setiap penulis ingin disiplin menulis setiap hari, tetapi menemukan cerita setiap hari sering tidak mudah. Metode “Tetapi” membantu anda menemukan cerita dan merancang adegan-adegan paling kuat untuk cerita anda.

Lebih Lanjut ➔


2 responses to “Cinta yang Menakutkan”

  1. Rum Avatar

    Bang Sulak, apakah kita boleh menamai sendiri “cerita telapak tangan” sebagai “cerita pendek sekali (cerpensek)”?

    1. Sulak Avatar

      Cerpensek terdengar harfiah, Mas, seperti batagor–bakso tahu goreng–sementara ‘cerita telapak tangan’ bagus secara bunyi dan gambar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Saya menulis artikel dan surat-surat tentang penulisan kreatif hampir setiap hari. Jika ingin menerima surat-surat dan artikel berikutnya via email, sila masukkan email anda di sini.