A.S. Laksana

JALAN menuju penderitaan bisa dimulai dari langkah pertama yang terlihat menawarkan kebahagiaan. Dan itulah yang terjadi pada Santanu.
Ia bertemu Gangga, satu-satunya perempuan yang ia inginkan sebagai istri, dan perempuan sungai itu menyambutnya. Sepuluh tahun ia bersama Gangga. Perempuan itu memberinya cinta dan kegelapan sekaligus dan membenamkannya ke dalam duka yang tak mungkin dihindari. Sumpahnya kepada perempuan itu, yang ia pikir akan sanggup ia penuhi, telah menjadi jerat yang mencekik lehernya kuat-kuat dan membuatnya tak sanggup bersuara. Yang bisa ia lakukan di dalam kegelapan hanyalah menjadi muram, tidak mengurus diri, dan memperlihatkan kepada siapa saja bagaimana ia menua dengan cepat. Rambutnya masih hitam, tetapi wajahnya layu, bergurat, dan kantung matanya menebal.
Di puncak penderitaan, Santanu akhirnya goyah, dan dengan amarah yang tak tertahankan ia melanggar sumpah. Lalu segalanya menjadi terang pada hari ia melanggar sumpah. Gangga menjelaskan semua yang dilakukannya, dan kegelapan menyingkir seketika dari pikiran Santanu, tetapi duka tidak. Perempuan itu meninggalkannya dan Santanu harus memikul duka enam belas tahun dalam kesunyian.
Selama enam belas tahun itu ia menjalani hidup seperti orang yang menginginkan kematian. Ia masuk hutan ketika sedih, menyandang busur dan anak panah, tetapi tidak lagi membunuh hewan-hewan. Ia hanya memandangi mereka dari kejauhan dan pergi ke tepi sungai menjelang senja, ke tempat ia menemukan Gangga dan kehilangan Gangga.
Enam belas tahun ia menarik diri dan lebih suka berbicara kepada batang-batang pohon seolah berbicara kepada Gangga, kepada batu-batu, kepada kijang di balik gerumbul sana. Dan sesungguhnya ia tidak berbicara; ia merintih:
Datanglah, Sungaiku
Datanglah satu kali saja
Sebab mataku kehilangan pagi
Dan telingaku kehilangan nyanyi
Datanglah, Sungaiku
Satu kali saja
Sebab musim tak hanya kemarau
Dan dada ini meranggas
Merindukan arusmu
Ia tertidur setelah merintih dan matahari terbenam di bukit-bukit barat dan ia bermimpi arus sungai berhenti mengalir dan Gangga datang lagi kepadanya, membelai wajahnya, memanggil namanya:
“Santanu.”
Ia terbangun, mendapati sungai betul-betul terbendung, dan Gangga berdiri di hadapannya, seperti kali pertama perempuan itu memperlihatkan diri kepadanya.
“Aku hampir tidak mengenalimu, Santanu.”
“Aku selalu mengenalimu.”
Gangga tidak menua. Ia tak terjamah waktu.
Santanu, dengan mata basah dan membiarkan saja air matanya mengalir, melanjutkan ucapannya:
“Terima kasih sudah menemuiku. Semua orang akan bahagia menyambut kepulanganmu. Mereka merindukan ratu mereka kembali.”
Gangga tersenyum, menoleh ke arah barat, mengangkat telunjuknya ke arah matahari yang terbenam.
“Kamu lihat matahari itu, Santanu. Apakah kamu bisa meminta dia kembali agar kamu bisa hidup di hari yang sama lagi? Tidak ada yang bisa melakukannya. Tidak ada yang sanggup memutar waktu. Jadi, jauhkan pikiranmu dari apa yang sudah selesai dan jangan berharap akan bisa mengulanginya lagi.”
Dari hulu sungai, seorang bocah remaja berlari-lari di permukaan air, seolah-olah ia berlari di atas tanah.
“Ibu, aku melakukannya,” kata bocah itu.
“Ya, aku melihatnya,” kata Gangga.
Si bocah berhenti dan berdiri di tepi arus yang terbendung. Gangga memanggilnya dan bocah itu berlari menemuinya, dan dengan suara polos berkata:
“Aku membendungnya lagi.”
Mata sayu Santanu membelalak, tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Anak-anak panah menancap bersilangan membentuk jaring dan air sungai tak mampu melewatinya. Dan bocah itu yang melakukannya?
“Hari ini anak kita berumur enam belas, Santanu,” kata Gangga. “Aku mengantarkannya kepadamu.”
Remaja itu memandangi Santanu dengan mata hitamnya yang cemerlang, tetapi wajahnya terlihat kebingungan. Gangga mengusap lembut punggung si bocah.
“Beri hormat kepada ayahmu, Dewabrata.”
Putra Gangga berlutut memberikan hormatnya. Santanu menyentuh kedua bahu anak itu dan mengangkatnya berdiri; mereka sudah sama tinggi.
“Da tahu semua yang harus diketahui oleh seorang pangeran, Santanu. Resi Wasista sendiri yang mengajarinya kebijaksanaan, Brihaspati mengajarinya keksatriaan, dan Parasurama mengajarinya memanah. Tidak akan ada orang lain yang lebih tepat untuk menggantikanmu kelak, selain Dewabrata. Dia ksatria utama.”
Dewabrata memeluk ibunya kuat-kuat. Lama ia memeluk ibunya, seperti tidak menginginkan perpisahan.
“Aku akan merindukanmu, Ibu.”
“Kamu tahu caranya jika ingin menemuiku.”
“Aku akan membendung sungai lagi, dan kau harus melihatnya lagi.”
Santanu memandangi ibu dan anak saling berpelukan. Gangga menyandarkan kepalanya ke dada Dewabrata. Kemudian mereka saling melepaskan, dengan gerak tangan yang enggan, dan Santanu, dengan pandangan yang kabur oleh air mata, melihat Gangga tersenyum kepadanya, membalikkan tubuh, dan menghilang. Tangannya gemetar ketika merengkuh Dewabrata; dada anak itu basah oleh air mata ibunya.[]
Dia Ingin, Tetapi…
Setiap penulis ingin disiplin menulis setiap hari, tetapi menemukan cerita setiap hari sering tidak mudah. Metode “Tetapi” membantu anda menemukan cerita dan merancang adegan-adegan paling kuat untuk cerita anda.
Lebih Lanjut ➔
Leave a Reply