Blog bagi sesiapa yang mencintai tulisan
-
1. Di Tepi Gangga
Read more: 1. Di Tepi GanggaA.S. Laksana Santanu, raja keempat belas wangsa Kuru, memacu kudanya menjelajah hutan. Ia pemburu yang terampil dan ia penyendiri sejak kanak-kanak; setiap kali berburu, ia akan pergi sendirian, sebab baginya berburu adalah sembahyang. Ia melakukannya untuk menyatukan diri dengan hutan belantara, dan ia tidak memerlukan rombongan pengawal untuk bersembahyang. Orang-orang di istananya sudah mulai khawatir…
-
Cinta yang Menakutkan
Read more: Cinta yang MenakutkanKawabata Yasunari Ia mencintai istrinya begitu mendalam. Dengan kata lain, ia mencintai satu wanita ini secara berlebihan. Ia menganggap kematian istrinya di usia muda sebagai hukuman dari langit atas cintanya. Hanya itulah satu-satunya penjelasan yang bisa ia dapatkan tentang kematian istrinya. Setelah istrinya meninggal, ia menjauhkan diri dari wanita mana pun. Ia bahkan tidak mau…
-
Mimpi
Read more: MimpiO. Henry Cerpen ini adalah karya terakhir O. Henry. Majalah Cosmopolitan memesannya dan, setelah kematiannya, manuskrip yang belum rampung ditemukan di kamarnya. Cerita ini dimuat dalam Cosmopolitan, September 1910. — MURRAY memimpikan sebuah mimpi.Baik psikologi maupun sains masing-masing berspekulasi ketika akan menjelaskan kepada kita petualangan aneh pada diri immaterial saat berkelana di wilayah “saudara kembar…
-
Orang-Orang Rumit
Read more: Orang-Orang RumitAnton Chekhov YEVGRAF Ivanovich Shiryaev, seorang tuan tanah kecil dari keluarga pendeta, anak pastor Ioann yang sudah meninggal, sedang berdiri di sudut di depan tempat cuci tangan dari tembaga dan mencuci tangannya. Seperti biasa, wajahnya tampak cemas dan muram dan janggutnya awut-awutan. Ayahnya dulu menerima hadiah dari Nyonya Kuvshinnikova, janda seorang jenderal, tanah seluas 300…
-
Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
Read more: Seribu Kunang-Kunang di ManhattanUmar Kayam MEREKA duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela. “Bulan itu ungu, Marno.” “Kau tetap hendak memaksaku untuk percaya itu?” “Ya, tentu saja, Kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?” “Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnya itu?” “Oh, aku…
