Kamala Das

Arumugham tidak heran ketika istrinya memukulnya di kepala saat mereka bertengkar, sebab itu sudah sering terjadi belakangan ini, mungkin sejak ia dipecat dari pekerjaannya sebagai penjaga malam setahun lalu karena mabuk. Perempuan itu memiliki hak penuh untuk memperlihatkan ketidaksukaannya dengan cara kasar, namun Arumugham kesal karena istrinya melakukannya di depan pemuda itu. “Suatu hari akan kubunuh perempuan ini,” katanya dalam hati sambil mengepalkan tangan. Namun ketika istrinya menoleh untuk memastikan bahwa ia marah oleh pukulan itu, Arumugham sengaja membuatnya jengkel dengan cara menyeringai saja. Ia cuma memamerkan senyum yang mengembang pelan-pelan, yang membuat wajah gelapnya mengerut, begitu pula dengan alis tipis yang memisahkan mata kecilnya dari kepalanya yang plontos. Sebenarnya ia tidak ingin mencukur kepalanya seperti biksu, tetapi istrinya mengatakan bahwa mereka tak sanggup membeli minyak rambut untuk dua orang, untuk merapikan rambut setelah mandi mingguan di dekat keran bocor di lokasi bangunan. Minyak sudah mahal sekali. Lagipula, rambut Arumugham penuh kutu. Tapi istrinya juga punya kutu, gemuk-gemuk dan hitam, sebesar kepik, merayap di seluruh kulit kepalanya. Arumugham sering membantu membunuh kutu-kutu itu pada siang hari di bawah pohon dekat taman dan laut.
Mereka sudah hampir setahun menjadi gelandangan. Arumugham menyukai hidup bermalas-malasan seperti ini, tetapi ia takut pada musim hujan dan hari-hari ketika tak menemukan makanan yang layak dimakan di gundukan sampah belakang Hotel Ritz. Kelaparan selalu mengajaknya bertengkar dan menghinanya sejak ia mabuk waktu itu dan kehilangan pekerjaan bagus. Betul, ia memang ceroboh. Pada hari gajian, ia biasa mampir ke warung sirih-pinang Anna dan menenggak lima gelas arak yang mengalir turun seperti pedang api dan membuatnya percaya diri. Untuk menghilangkan bau minuman itu, ia mengunyah dua lembar sirih berisi kapur dan gambir dan segumpal tembakau….
“Kita seharusnya masih tinggal di kholi kita di Sewri,” kata istrinya sambil menunjuk Arumugham, “kalau saja kamu tidak mabuk dan menghina mandor pabrik. Anjing buduk macam apa yang kunikahi ini! Siapa yang akan percaya sekarang, dengan keadaanku, bahwa dulu anak inspektur, Chinna Thampy, pernah melamarku? Aku kehilangan masa muda dan kecantikanku.”
“Aku percaya itu, Amma,” kata pemuda itu, dengan ikat kepala merah dan pakaian seperti kebanyakan pengemis kota. “Kau masih sedap dipandang. Saat aku pertama kali melihatmu membuat chapati di bawah pohon itu dengan sigree dan arang, kupikir kau perempuan berada. Kau tampak seperti titisan Lakshmi. Sekarang kau tak punya rumah, tapi kenapa harus berpikir keadaan akan selamanya begini? Salah satu dari kalian bisa mendapatkan pekerjaan bagus. Kalau kau dapat pekerjaan sebagai ayah pada keluarga kaya, semua akan beres. Kau hanya perlu menjaga anak-anak, mengajak mereka ke taman, dan menyiapkan mereka tidur malam. Ibuku dulu ayah di rumah keluarga Parsi. Gajinya lima puluh rupee sebulan dan makan tiga kali sehari. Ditambah empat sari setahun.”
“Makan tiga kali tiap hari!” seru Arumugham. “Aduh, aku sendiri mau menjadi ayah kalau begitu! Orang Parsi makan daging. Aku bisa menjadi gemuk dan tampan, makan makanan enak.”
Istrinya dan pemuda itu tertawa terbahak-bahak.
“Seratus tahun dari sekarang pun kau tak bisa menjadi ayah,” kata pemuda itu. “Hanya perempuan yang bisa menjadi ayah. Istrimu bisa. Tapi sekarang orang gampang curiga. Tak ada yang mau memberi pekerjaan tanpa melihat surat-surat. Suatu hari aku pergi ke satu rumah di Colaba dan meminta pekerjaan sebagai pelayan, tapi nyonya rumah mengharuskan sidik jariku diambil. Seperti penjahat. Aku langsung pergi. Aku tidak mau dihina orang kaya. Lebih baik mati di jalan daripada bekerja untuk orang seperti itu.”
“Lalu apa pekerjaanmu sekarang?” tanya si istri. Ia mulai menyukai harga diri pemuda itu, juga garis-garis halus di wajahnya.
“Kadang aku pergi ke tepi laut dan membantu penyelundup mengangkat barang-barang mereka ke atas truk yang diparkir dekat situ. Hanya lima menit kerja dan dapat lima puluh rupee. Kalau tertangkap, masuk penjara setahun. Hidup di penjara tidak buruk. Banyak makanan sehat dan perawatan gratis kalau sakit. Kadang aku berharap mereka menangkapku lagi supaya aku bisa istirahat. Musim hujan hampir tiba. Kita ini tak punya rumah, harus bagaimana? Penjara paling cocok untuk bulan-bulan mendatang. Tapi polisi tak berguna sekarang ini. Mereka semua sudah disuap. Mereka tak akan menangkap siapa pun meski kita menggoyang-goyangkan barang selundupan di depan mata mereka. Tak ada yang bisa dilakukan.”
Pemuda itu terkekeh pelan.
“Kamu bisa tinggal bersama kami,” kata si istri. “Suamiku sudah bicara dengan beberapa pemilik toko agar kami boleh tidur di bawah terpal depan toko. Kita makan apa pun yang ada dan bertahan saja. Hotel Rasna sering membagi makanan untuk orang lapar. Suamiku yang mengambilnya. Kadang kami dapat chapati dan samosa dengan acar. Kamu tidak akan kelaparan kalau bersama kami.”
“Dia nyonya rumah yang baik, bukan?” kata suaminya sambil menggaruk kepala plontosnya. “Bicaranya seolah dia punya rumah dan dapur penuh makanan.”
“Siapa yang salah kalau aku tak punya rumah?” lanjut si istri dengan suara melengking. “Kamu menjual semua perhiasanku. Kamu kehilangan pekerjaan. Kita terusir dari gubuk kita. Siapa yang salah? Kamu atau aku? Bukankah aku selalu menjadi istri yang patuh kepadamu? Aku tidak tidur dengan lelaki lain seperti para perempuan di kampung kumuh yang melambai-lambai kepada penumpang kereta lambat saat suami mereka bekerja. Aku tidak mau mencari uang seperti itu. Laki-laki tak berguna sepertimu tidak memberiku apa-apa. Bahkan saat Diwali pun kamu tidak membelikanku sari baru! Aku diam saja menahan diri. Tapi sekarang aku sudah tak tahan. Aku membalas ucapanmu. Aku bahkan memukulmu saat kamu membuatku kesal.”
“Suatu hari akan kupukuli kamu seumur hidup,” gumam Arumugham. Ia tidak ingin tamu itu menganggapnya takut pada istri.
“Kamu akan memukuli aku?” tanya perempuan itu. “Lakukan sekarang, anjing buduk. Akan kubekap kamu dengan kedua tanganku. Aku akan pergi ke kantor polisi dan mengaku membunuhmu. Aku tidak takut siapa pun. Penjara jauh lebih baik daripada trotoar ini.”
“Ini tempat terbaik di dunia, Amma,” kata pemuda itu lembut. “Kau bisa melihat taman bunga dan laut biru. Dan malam hari kau bisa berbaring sambil menatap langit penuh bintang. Hidup seperti ini ideal bagiku. Aku tahu beberapa lagu tentang laut. Dulu aku menyanyi di kereta listrik saat masih kecil untuk mengumpulkan koin-koin. Sekarang mereka tidak mengizinkanku naik kereta—aku sudah terlalu tua untuk menyanyi di kereta….”
“Kamu penyanyi?” tanya perempuan itu, mulai tenang lagi. “Bisakah kamu menyanyikan beberapa lagu untukku? Saat kecil di Tanjore, aku tinggal dekat rumah seorang bhagavatar. Setiap pagi aku terbangun mendengar nyanyiannya. Ia sangat pandai. Itu sudah lama sekali. Ia pasti sudah meninggal.”
“Kau punya jiwa seniman, Amma,” kata pemuda itu. “Aku sudah tahu sejak pertama kali melihatmu. Seharusnya kau tinggal di rumah orang kaya. Seharusnya kau memainkan veena dengan jari-jari panjangmu, memakai melati putih di rambutmu dan perhiasan emas di tubuhmu. Kau seperti Dewi Lakshmi.”
“Kalau kamu bicara begitu, aku sedih,” kata perempuan itu. Ia merasakan air mata memenuhi matanya dan mengalir di pipinya. Ia merapikan rambutnya dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Isaknya mengusik suaminya, yang mendongak bingung. Ada apa? Apa yang membuat istrinya menangis lagi seperti dulu, bertahun-tahun silam, sebelum kecantikannya memudar?
“Apa yang kau katakan sampai membuat dia menangis?” tanya Arumugham.
“Aku hanya bicara soal musik,” jawab pemuda itu.
“Kau sudah membuat istriku sedih,” balas si suami. “Kau tak pantas datang kemari lalu membawa kesedihan. Pergi dari sini.”
“Aku minta maaf, Amma,” kata pemuda itu. “Dan kau salah paham, Appa. Aku hanya memuji istrimu. Aku hanya mengatakan bahwa ia mirip Dewi Lakshmi.”
“Kami tidak mau kau di sini,” kata si suami. “Bawa buntalanmu dan pergi.”
Pemuda itu bangkit untuk pamit. “Aku pergi, Amma,” katanya. “Semoga Dewa Murugan melindungimu sepanjang hidup.”
Perempuan itu tiba-tiba bergerak dan berhenti menangis. “Tunggu,” serunya, “bawa ini. Kamu bisa menyelimuti diri dengan ini nanti saat udara dingin datang.”
Ia menyerahkan selimut yang ia keluarkan hati-hati dari buntalannya. Pinggirannya robek-robek, tetapi selimut itu masih bagus dan hangat. Pemuda itu menerimanya dan mengusap matanya dengan selimut itu sebagai tanda terima kasih.
“Kau Dewi Lakshmi,” katanya. “Aku akan selalu mengingatmu dengan kasih.”
Setelah pemuda itu pergi dengan selimut tersampir di bahunya yang kokoh, Arumugham menoleh kepada istrinya dengan murka. “Kenapa kamu berikan satu-satunya barang bagus yang kita punya kepada orang asing itu? Bagaimana kita akan bertahan menghadapi hujan dan musim dingin nanti? Apa artinya dia bagimu?”
“Dia bukan siapa-siapa,” jawab perempuan itu sambil membentangkan sehelai kain di tanah lalu merebahkan diri, “tapi dia berbicara tentang musik padaku….”
“Kamu bertingkah seperti orang hilang akal. Dia menyihirmu dengan bicara tentang laut dan bintang-bintang.”
Perempuan itu tersenyum dan tak bicara.[]
—
Catatan: Ayah, sebutan untuk pengasuh anak-anak.
*) Diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari versi Inggris “A Home near the Sea”.

Kamala Das (kemudian menjadi Kamala Surayya pada 1999 setelah masuk Islam) lahir pada 31 Maret 1934 di Kerala, India, dan meninggal pada 31 Mei 2009. Kamala adalah bagian dari generasi penulis India yang karyanya berpusat pada pengalaman pribadi daripada kolonial. Cerita pendek, puisi, memoar, dan esainya membuatnya dihormati.
Ia menulis dalam bahasa Inggris (sebagian besar puisi) dan Malayalam. Dalam perpuisian, ia disebut sebagai “Ibu Puisi Modern India dalam Bahasa Inggris”, karena puisi-puisinya membuka jalan bagi suara perempuan dalam perpuisian India modern, dengan gaya yang terus terang tentang tubuh, hasrat, pernikahan, dan kesendirian—tema yang jarang disentuh secara terbuka pada zamannya.
Kamala dinominasikan menerima Nobel beberapa kali, dan hingga kini dipandang sebagai salah satu penulis modern India yang paling berpengaruh.

Leave a Reply