Penulis seharusnya Mudah Bosan, seperti Halnya Kurator

Beberapa hari ini tiba-tiba saya tertarik membaca buku tentang kurator seni. Hanya penambah wawasan. Saya tidak pernah menjadi kurator seni dan tidak sedang berpikir menjadi kurator. Dan, entah kenapa, saya merasa cara mereka berpikir dekat dengan cara saya menulis.

Kurator bukan pencipta karya seni; ia orang yang memilih, menata, dan menyusun cerita dari serangkaian karya tunggal, entah itu lukisan, patung, atau foto.

Saya pikir, penulis melakukan hal yang sama.

Seorang penulis membaca, mengamati, mencatat, membuat potongan-potongan kecil, dan mengatur potongan-potongan kecil itu agar membentuk sesuatu yang bisa dibaca orang lain.

Karenanya, menulis sering serupa dengan tindakan menyusun kembali hal-hal yang sudah ada dengan cara yang segar. Mirip kurator.

*

Seorang kurator yang baik memiliki lima kebiasaan, dan kelimanya berguna juga bagi penulis. Ia selalu ingin tahu, jeli, mudah bosan, sabar berpikir, dan mempunyai perasaan yang kuat akan keindahan.

Pertama, rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu membuat seseorang selalu lapar dan tidak buru-buru merasa puas. Ia tidak hanya membaca buku yang sesuai seleranya, ia mendengarkan orang yang pandangannya berlawanan, dan ia bertanya terus-menerus. Tanpa rasa ingin tahu, penulis tidak akan melakukan pengembaraan dan tulisannya akan berputar-putar di urusan yang sama.

Kedua, kejelian. Orang yang jeli akan mengembangkan kepekaan terhadap hal-hal kecil yang mungkin dilewatkan begitu saja oleh kebanyakan orang. Ia memperhatikan gestur, menyadari perubahan halus pada suatu tindakan, melihat pola perilaku individual pada situasi-situasi tertentu, memahami motif tersembunyi, mengamati interaksi sosial, dan sebagainya.

Ketiga, mudah bosan. Sifat mudah bosan secara umum mungkin dianggap sebagai kekurangan, tetapi ini sifat yang membuat kanak-kanak tidak betah pada satu situasi dalam waktu lama. Anak-anak cepat bosan karena mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar dan belum ingin berhenti pada satu hal. Mereka belum takut keliru, belum menilai diri, belum takut terlihat bodoh.

“Begitu anak-anak bisa menilai diri sendiri, banyak dari mereka menjadi takut keliru,” kata Carol Dweck.

Rasa ingin tahu mati begitu kita terlalu sering menilai diri dan mengembangkan perasaan takut salah. Sifat kanak-kanak mati dalam diri kita.

Mempertahankan sifat kanak-kanak yang mudah bosan adalah mekanisme untuk melawan kematian kecil itu. Pada seorang penulis, ia akan senang berpindah dari satu ide ke ide lain atau dari satu percobaan ke percobaan lain. Ia tidak akan menghentikan dirinya dalam satu jenis kemapanan. Dari sifat yang mudah bosan itulah seringkali muncul pembaruan.

Keempat, kesabaran berpikir. Ini menjadi pasangan serasi bagi sifat mudah bosan. Bagaimanapun kebaruan tidak mungkin datang tanpa kesabaran berpikir. Tidak semua yang kita pikir bagus akan menghasilkan tulisan yang bagus. Tidak semua jenis kegelisahan perlu diteriakkan saat itu juga. Menulis adalah tindakan berpikir, dan berpikir memerlukan kesabaran.

Ada waktu untuk membiarkan ide-ide bergumul di kepala. Saat kita tidak terburu-buru, kita akan mulai melihat pola. Kita akan melihat bagaimana sesuatu menghidupkan tulisan, dan itu mungkin segala sesuatu—kecakapan teknis yang tak terlihat—yang sebelumnya tak pernah kita pikirkan. Kesabaran itulah yang mengubah catatan acak menjadi tulisan utuh.

Kelima, rasa keindahan. Seorang kurator yang baik memiliki kepekaan terhadap rasa keindahan. Penulis juga seperti itu. Keindahan tidak lahir dari sekadar merias kalimat dengan bunga-bunga. Keindahan adalah ketepatan antara bentuk dan isi. Dalam hal ini, ia setara dengan orisinalitas. Ia tidak lahir dari bahasa yang manis, tetapi dari ekspresi yang bertemu dengan wadah yang pas—dari ketepatan cara kita dalam menyajikan kondisi manusia.

*

Tidak ada yang baru di kolong langit, begitu kata orang. Maka, urusan penulis mungkin memang bukan mencari sesuatu yang baru, sesuatu yang tak ada, melainkan melakukan percobaan demi percobaan untuk mengangkat hal-hal lama dengan cara yang berbeda.

Salam,
A.S. Laksana



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Saya menulis artikel dan surat-surat tentang penulisan kreatif hampir setiap hari. Jika ingin menerima surat-surat dan artikel berikutnya via email, sila masukkan email anda di sini.