Penulis pada umumnya adalah orang-orang yang obsesif. Mereka yang karyanya belum pernah diterbitkan terobsesi untuk diterbitkan. Obsesi ini, kita tahu, telah mengilhami beberapa orang dengan ide bisnis tentang workshop atau kelas penulisan yang menjanjikan penerbitan buku bersama. Beberapa kali saya mendapatkan pertanyaan, saat mengumumkan kelas, apakah nanti karya-karya para peserta diterbitkan.
Mereka yang sudah diterbitkan terobsesi untuk mendapatkan tepuk tangan dari orang-orang yang membaca karya mereka.
Mereka yang sudah sering diterbitkan terobsesi untuk mendapatkan lebih banyak pembaca, lebih banyak tepuk tangan, dan pengakuan yang lebih bergengsi.
Obsesi untuk mendapatkan pengakuan berpotensi melemahkan, ketika pengakuan itu tidak kunjung didapatkan. Dan jika seseorang masih ingin mendapatkannya, ia mungkin akan mencari perhatian melalui cara-cara yang tidak ada hubungannya dengan tulisan.
Obsesi yang paling sehat, menurut saya, adalah obsesi untuk menulis lebih baik ketimbang hari kemarin. Ini bisa berhasil bisa gagal, dan bisa menjadi perjalanan sepanjang hayat seorang penulis. Dan ini bukan obsesi terhadap hasil, melainkan terhadap cara bekerja.
Dalam obsesi semacam itu kita akan melihat kegigihan dan kesediaan seorang penulis untuk terus belajar—meningkatkan kecakapannya dalam berbagai aspek teknis yang diperlukan untuk menggambarkan secara presisi kondisi manusia. Ia akan mencoba cara-cara baru tanpa sibuk berpikir apakah orang akan menyukainya atau tidak.
Penulis seperti ini mungkin tidak benar-benar tanpa keinginan untuk diakui, tetapi pengakuan bukan lagi pusat hidupnya. Ia menulis karena ingin tahu sampai sejauh mana ia bisa mengungkapkan “manusia” yang bergolak di dalam dirinya dan cara paling tepat untuk menggambarkan manusianya itu dalam kehidupan. Obsesinya bukan lagi pada tepuk tangan, melainkan pada ketepatan. Itu obsesi yang akan membuatnya bertahan lama.
Jika ia kemudian mendapatkan pengakuan, pengakuan itu hanya akibat, konsekuensi, efek samping dari kesungguhannya dalam upaya menyampaikan secara tepat apa yang mendesak di dalam dirinya. Ia tidak mengejar pengakuan. Pengakuan datang kepadanya, sebab ia punya keteguhan untuk menggali kehidupan “sampai ke putih tulang”—meminjam bahasa Chairil Anwar—dan menyajikannya dalam tulisan yang hanya ia yang bisa mengerjakannya.
Salam,
A.S. Laksana

Leave a Reply