Seorang teman kecewa membaca tulisan terakhir orang yang selama ini ia kagumi tulisan-tulisannya. Ia mengirimkan pesan WA ke saya beberapa hari lalu.
“Kenapa dia harus menyerahkan diri pada AI?” katanya. “Saya menyukai tulisan-tulisannya, dan dia menulis berkali-kali lipat lebih bagus ketimbang AI.”
Dia mengatakan mudah sekali mengenali mana suara mesin dan mana suara manusia. Saya setuju. Saya mendapati bahwa sekarang ini banyak tulisan panjang di Facebook. Orang-orang menjadi fasih menulis; mereka bersuara pintar dan terdengar mampu menyimpulkan kehidupan dalam setiap paragraf.
Untuk kali pertama dalam sejarah negeri kepulauan ini urusan tulis-menulis tidak menjadi beban. Orang-orang menulis dalam bahasa yang lancar, dan setiap orang bisa melakukannya, bahkan orang-orang yang sebelumnya kesulitan menulis satu paragraf saja.
“Saya tahu itu suara mesin,” katanya, “karena saya selalu membaca tulisannya setiap kali ia memposting tulisan di Facebook. Dan pada beberapa tulisannya yang terakhir, suaranya berubah.”
Terhadap kekecewaannya, saya hanya bisa menyodorkan truisme:
“AI ada di tangan setiap orang.”
Itu sama dengan memberi tahu orang bahwa ibu saya lebih tua ketimbang saya.
Tapi faktanya begitu. AI ada di genggaman siapa saja. Ia membantu setiap orang menghasilkan tulisan dalam cara yang sangat mudah, sangat cepat, dan ia siap kapan pun diperlukan.
Maka, menulis bukan masalah lagi.
Yang tetap menjadi masalah, dan tak pernah diatasi, adalah membaca. Kemampuan membaca orang-orang kepulauan ini sangat mengerikan. Dalam tes PISA terakhir (2022), kemampuan membaca anak-anak sekolah kita hanya berhenti di level 2 dari 6 level.
Dan hanya 25 persen yang mampu mencapai lavel 2, artinya mereka bisa memahami tulisan pendek yang sederhana, tetapi kesulitan memahami konsep, ide, atau jalinan yang lebih rumit antarparagraf. Dengan kata lain, mereka buta huruf fungsional.
Tetapi AI menghadirkan mukjizat. AI membuat mereka menghasilkan tulisan, terlihat pintar, dan terdengar berwawasan, meskipun kebanyakan dari mereka tetap kesulitan memahami bacaan, dan–tentu saja–tetap kesulitan berpikir.
Salam,
A.S. Laksana

Leave a Reply