Ambrose Bierce

1. Pernyataan Joel Hetman, Jr.
Aku pria paling malang. Kaya, dihormati, berpendidikan cukup, dan sehat jasmani—dengan banyak keuntungan yang disyukuri oleh mereka yang memilikinya dan diidamkan oleh mereka yang tidak memilikinya. Namun, kadang aku berpikir sekiranya semua itu tak pernah kumiliki, aku mungkin tak akan terlalu sengsara, sebab ketimpangan antara penampilan luar dan keadaan batinku tidak akan menjadi perhatian. Andaikata hidupku serba kekurangan dan aku harus bekerja keras untuk hidup, barangkali sesekali aku bisa melupakan rahasia kelam itu, rahasia yang memaksa pikiran berputar-putar tanpa jalan keluar.
Aku anak tunggal Joel dan Julia Hetman. Ayahku tuan tanah di desa, ibuku perempuan cantik dan terpelajar, yang kepadanya ayah menumpahkan kasih sayang penuh gairah, yang kini kupahami sebagai sesuatu yang lahir dari kecemburuan yang menuntut. Rumah kami beberapa mil dari Nashville, Tennessee, sebuah bangunan besar tak beraturan, tanpa gaya arsitektur tertentu, sedikit menjorok dari jalanan, di tengah pepohonan dan semak.
Pada saat menulis ini, usiaku sembilan belas tahun, mahasiswa Yale. Suatu hari aku menerima telegram yang nadanya begitu mendesak dari ayah, sehingga tanpa perlu penjelasan apa pun aku segera pulang. Di stasiun kereta Nashville, seorang kerabat jauh menungguku untuk memberi tahu mengapa aku diminta pulang: ibuku dibunuh secara keji—kenapa dan oleh siapa tak ada yang tahu, tetapi peristiwanya begini.
Ayah pergi ke Nashville dengan niat kembali sore berikutnya. Sesuatu menghambatnya menyelesaikan urusan, sehingga ia pulang malam itu juga dan tiba menjelang fajar. Dalam kesaksiannya di hadapan petugas pemeriksa jenazah, ia menjelaskan bahwa karena tidak membawa kunci dan enggan membangunkan para pelayan, ia berjalan ke bagian belakang rumah. Ia tidak menjelaskan untuk keperluan apa. Saat membelok di sudut bangunan, ia mendengar bunyi seperti pintu ditutup pelan-pelan, dan melihat dalam gelap, bayangan seorang pria yang seketika menghilang di antara pepohonan. Pengejaran singkat dan pencarian cepat di pekarangan, dengan dugaan penyusup itu seseorang yang diam-diam menemui pelayan, tidak membuahkan hasil. Ayah lalu masuk melalui pintu yang tidak terkunci dan menaiki tangga menuju kamar Ibu. Pintu kamar terbuka, kamar gelap gulita, dan saat ia melangkah masuk kakinya tersandung sesuatu yang berat di lantai. Tak perlu kuceritakan rinciannya; itu ibuku yang malang, tewas oleh cekikan tangan manusia!
Tak ada barang hilang, tak satu pelayan pun mendengar suara, dan kecuali bekas jari-jari mengerikan di leher ibuku—Ya, Tuhan! Andaikan aku bisa melupakannya!—tak ada jejak pembunuh yang pernah ditemukan.
Aku berhenti kuliah dan tinggal bersama ayahku, yang tentu saja berubah besar. Semula ia pendiam dan tertutup, dan sekarang ia terbenam di dasar kesedihan hingga tak ada lagi yang dapat menarik perhatiannya, namun apa pun—langkah kaki, pintu tertutup mendadak—bisa membangkitkan minatnya sesekali; orang mungkin menyebutnya sebagai kecemasan. Pada kejutan-kejutan kecil indrawi, ia akan tersentak dan kadang menjadi pucat, lalu terbenam lagi ke apati muram yang lebih dalam ketimbang sebelumnya. Kurasa ia masuk keadaan yang biasa disebut “keruntuhan saraf.” Tentang aku sendiri, waktu itu aku masih muda. Masa muda serupa Gilead*), sebuah negeri yang memiliki semua obat untuk semua luka. Ah, seandainya aku bisa kembali ke masa itu. Karena belum akrab dengan duka, aku tidak tahu bagaimana menilai kehilangan; aku tak mampu menakar seberapa berat pukulannya.
Suatu malam, beberapa bulan setelah peristiwa mengerikan itu, Ayah dan aku berjalan pulang dari kota. Bulan purnama mengapung sekitar tiga jam di atas cakrawala timur; seluruh pedesaan tenggelam dalam keheningan malam musim panas; langkah kaki kami dan nyanyian tonggeret yang tak henti-henti menjadi satu-satunya bunyi, samar-samar. Bayang-bayang pepohonan di tepi jalan melintang hitam di permukaan tanah; berselang-seling dengan warna pucat jalanan di bawah bulan. Saat kami sudah dekat dengan gerbang rumah, yang bagian depannya gelap oleh bayang-bayang dan tak satu pun lampu menyala, Ayah mendadak berhenti dan mencengkeram lenganku, berkata, hampir tak terdengar:
“Ya, Tuhan! Ya, Tuhan! Apa itu?”
“Aku tak mendengar apa-apa,” kataku.
“Lihat—lihat itu!” katanya. Jarinya menunjuk ke depan sepanjang jalan.
“Tidak ada apa-apa, Ayah,” kataku. “Mari masuk—engkau sakit.”
Ia melepaskan lenganku dan berdiri mematung di jalanan yang berkilau, menatap seperti orang hilang akal. Wajahnya pucat dan kaku di bawah cahaya bulan. Aku menarik lengan bajunya pelahan, namun ia sudah lupa keberadaanku. Tak lama kemudian ia mundur, selangkah demi selangkah, tanpa sekali pun mengalihkan mata dari apa yang ia lihat, atau yang ia kira ia lihat. Aku berputar setengah badan untuk mengawasinya, berdiri dengan perasaan gamang. Aku tak ingat merasa takut, kecuali dingin tiba-tiba. Rasanya seperti angin dingin menyentuh wajahku dan menyelimuti tubuhku dari kepala hingga kaki; aku bisa merasakan getarannya pada rambutku.
Pada saat itu perhatianku tertuju pada cahaya yang tiba-tiba memancar dari jendela lantai atas rumah: salah seorang pelayan, yang terbangun oleh firasat jahat entah apa, dan menuruti dorongan yang tak pernah bisa ia jelaskan, menyalakan lampu. Ketika aku menoleh untuk mencari ayahku, ia sudah hilang, dan sampai bertahun-tahun kemudian aku tak pernah mendengar kabar apa pun tentangnya.
2. Pernyataan Caspar Grattan
Hari ini aku masih disebut hidup; besok, di ruangan ini, akan terbujur sebentuk tanah liat tanpa nyawa yang dulunya adalah aku. Jika seseorang menyingkap kain dari wajah benda tak menyenangkan itu, ia melakukannya semata untuk memuaskan rasa ingin tahu yang tak waras. Sebagian, tentu, akan melangkah lebih jauh dan bertanya, “Siapakah dia?” Dalam tulisan ini kuberikan satu-satunya jawaban yang dapat kuberikan—Caspar Grattan. Rasanya itu sudah cukup. Nama itu memadai untuk kebutuhan kecilku selama dua puluh tahun lebih dari hidupku yang entah berapa panjang. Benar, aku menamai diriku sendiri. Aku sudah tak punya nama, maka aku berhak melakukannya. Di dunia ini orang harus punya nama; nama mencegah kekacauan, bahkan ketika ia tidak cocok dengan kepribadian pemiliknya. Sebagian orang dikenal dengan angka, yang tak pernah memadai sebagai pembeda.
Suatu hari, sebagai contoh, aku sedang menyusuri jalanan di kota yang jauh dari sini dan bertemu dua pria berseragam; salah satunya berhenti sebentar dan memandang wajahku dengan rasa ingin tahu, lalu berkata kepada rekannya, “Orang itu mirip 767.” Ada sesuatu pada angka itu yang terasa akrab dan mengerikan. Digerakkan oleh dorongan yang tak tertahankan, aku melompat ke gang kecil dan berlari hingga roboh kelelahan di sebuah jalan desa.
Aku tak pernah melupakan angka itu, dan angka itu selalu kembali ke ingatanku bersama dengan ocehan cabul, tawa keras tanpa kegembiraan, dentang pintu-pintu besi. Maka kukatakan bahwa sebuah nama, bahkan jika itu buatan sendiri, lebih baik daripada sebuah angka. Di buku catatan pemakaman orang-orang tak dikenal, aku akan segera memiliki keduanya. Alangkah kayanya!
Kepada siapa pun yang menemukan tulisan ini, aku mohon sedikit pertimbangan. Ini bukan riwayat hidupku; aku tak tahu cara menulis riwayat hidup. Ini hanya tumpahan ingatan, dalam keping-keping yang tampaknya tak saling bertaut; sebagian mungkin terang dan runtut seperti manik-manik pada utas benang, sebagian lainnya berantakan dan ganjil, seperti mimpi merah darah dengan sela-sela kosong dan hitam—seperti api sihir yang tetap menyala merah di tengah keterasingan.
Berada di tepi pantai keabadian, aku menoleh untuk terakhir kali memandang daratan, menyusuri jalan yang kulalui. Ada dua puluh tahun jejak kaki yang cukup jelas, jejak kaki berdarah. Jejak itu menuntunku menjalani kemiskinan dan penderitaan, berliku-liku dan tak pasti, seperti langkah seseorang yang terhuyung memikul beban—
Terkucil, tanpa teman, muram, lambat.
Mundur ke awal via dolorosa ini—epik penderitaan dengan episode-episode dosa—aku tak melihat apa pun dengan jelas; semuanya seperti muncul dari gumpalan awan. Aku tahu bahwa itu hanya berlangsung selama dua puluh tahun, namun aku sudah tua.
Orang tak bisa mengingat kelahirannya—ia harus diberi tahu. Tetapi padaku lain soal; hidup datang kepadaku dengan tangan penuh dan memberiku seluruh kecakapan dan daya. Tentang kehidupan sebelum sekarang, pengetahuanku tak melebihi siapa pun; setiap orang memiliki bisikan samarnya masing-masing yang mungkin kenangan, mungkin mimpi. Aku hanya tahu bahwa tubuh dan pikiranku sudah tua. Itu kesadaran pertamaku, yang kuterima begitu saja tanpa heran. Aku mendapati diriku berjalan di hutan, compang-camping, kaki lecet, letih dan lapar. Saat melihat sebuah rumah pertanian, aku mendekat dan meminta makanan, yang diberikan oleh seseorang yang menanyakan namaku. Aku tak tahu namaku, namun aku tahu bahwa semua orang punya nama. Dengan perasaan malu, aku mundur, dan ketika malam datang, aku tidur di hutan.
Keesokan harinya aku memasuki sebuah kota besar yang tak akan kusebutkan namanya. Aku juga tak akan menceritakan kejadian-kejadian lain dalam hidup yang akan segera berakhir ini—hidup mengembara, selalu dicekam rasa takut luar biasa akan kejahatan, yang merupakan hukuman atas kesalahan dan teror, yang merupakan hukuman atas kejahatan. Aku akan coba merangkum ceritanya.
Aku sepertinya pernah tinggal di dekat kota besar, menjadi petani makmur, menikah dengan perempuan yang kucintai dan kucurigai. Kadang aku merasa kami memiliki anak, seorang pemuda dengan bakat cemerlang dan harapan besar. Gambarannya samar, tak pernah terlihat jelas, lebih sering ia tak hadir dalam bingkai.
Pada malam sial itu, terlintas di benakku untuk menguji kesetiaan istriku dengan cara kasar dan murahan, cara yang dikenal oleh semua penggemar cerita populer. Aku pergi ke kota dan berpesan kepada istriku akan pulang besok sore. Namun aku kembali sebelum fajar dan berjalan ke belakang rumah, berniat masuk melalui pintu yang diam-diam telah kuutak-atik agar tampak terkunci, padahal sesungguhnya tidak. Saat sudah dekat ke pintu, kudengar pintu itu terbuka dan tertutup pelahan, dan kulihat seorang pria menyelinap ke dalam gelap. Dengan niat membunuhnya, aku meloncat mengejar pria itu, tetapi ia lenyap tanpa meninggalkan jejak. Kadang aku sendiri sekarang tak begitu yakin ia manusia.
Diliputi cemburu dan amarah, menjadi buta dan liar oleh naluri kejantanan yang terhina, aku masuk ke rumah dan melompat menaiki tangga ke pintu kamar istriku. Pintu tertutup, tetapi karena kunci itu juga telah kuutak-atik, aku masuk dengan mudah, dan meski gelap pekat aku segera berada di sisi ranjangnya. Aku meraba-raba dan tanganku memberi tahu bahwa ranjang itu berantakan dan kosong.
“Ia di bawah,” pikirku, “dan karena takut oleh kedatanganku, ia menghindariku ke ruang tengah yang gelap gulita.” Dengan maksud mencarinya, aku berbalik untuk keluar, tetapi aku mengambil arah yang salah—dan itu arah yang benar! Kakiku menabraknya; ia meringkuk di sudut kamar. Seketika tanganku mencekik lehernya, membungkam jeritan; lututku menindih tubuhnya yang meronta; dan di dalam gelap itu, tanpa sepatah kata tuduhan atau celaan, aku mencekiknya hingga mati! Di sanalah mimpi berakhir. Aku menceritakannya dalam kala lampau, tetapi kala kini lebih tepat, sebab berulang-ulang peristiwa itu berlangsung lagi dalam benakku—berulang-ulang aku menyusun rencana, mati-matian mencari bukti, dan menghukum pengkhianatannya. Lalu semuanya kosong; dan sesudahnya hujan memukul kaca jendela yang kotor, atau salju turun di pakaianku yang tipis, roda-roda berderak di jalan-jalan kumuh tempat hidupku melata dalam kemiskinan dan pekerjaan hina. Jika matahari benar ada, aku tak mengingatnya; jika burung-burung ada, aku tak mendengar nyanyinya.
Ada mimpi lain, penglihatan lain di malam hari. Aku berdiri di antara bayang-bayang di jalan yang diterangi bulan. Aku sadar akan kehadiran lain, tetapi tak dapat kutentukan siapa dia. Di bayang-bayang sebuah rumah besar kulihat kilau pakaian putih; lalu sosok perempuan menghadangku di jalan—istriku yang kubunuh! Ada maut di wajah itu; ada jejak di lehernya. Mata itu menatap mataku dengan kesungguhan tak terkira yang bukan celaan, bukan kebencian, bukan ancaman, dan bukan apa pun selain bahwa ia mengenaliku. Di hadapan penampakan mengerikan itu aku mundur ketakutan—ketakutan yang sama dengan saat aku menuliskannya. Aku tak mampu lagi menyusun kalimat dengan benar.
Kini aku tenang, tetapi sungguh tak ada lagi yang bisa diceritakan: peristiwa itu berakhir di tempat ia bermula—dalam kegelapan dan keraguan.
Ya, aku kembali menguasai diriku sendiri: “nakhoda jiwaku.”**) Tapi itu bukan penangguhan hukuman; itu tahap dan fase lain penebusan. Penebusan dosaku, yang tak berubah derajatnya, selalu berubah-ubah jenisnya: salah satu variannya adalah ketenangan. Bagaimanapun, ini hanya hukuman seumur hidup. “Ke neraka seumur hidup”—itu hukuman yang bodoh: si terhukum bisa memilih sendiri durasi hukumannya. Hari ini masa hukumanku berakhir.
Kepada setiap orang, semoga damai, sebab itu tak pernah menjadi milikku.
3. Pernyataan Mendiang Julia Hetman, melalui Cenayang Bayrolles
Aku tidur lebih awal dan lelap hampir seketika, lalu terbangun oleh rasa terancam yang tak terjelaskan, yang, kupikir, adalah pengalaman umum dalam kehidupan lain yang lebih awal. Aku sepenuhnya yakin bahwa rasa itu tak bermakna apa-apa, tetapi keyakinan itu tidak mengusirnya. Suamiku, Joel Hetman, sedang pergi; para pelayan tidur di bagian lain rumah. Ini keadaan biasa yang sebelumnya tak pernah menggangguku. Namun teror aneh itu membesar tak tertahankan. Dengan gerak enggan, aku duduk dan menyalakan lampu di samping tempat tidur. Namun, berlawanan dengan harapanku, itu tidak melegakan; cahaya itu justru terasa sebagai bahaya tambahan, sebab kupikir ia akan memancar di bawah pintu, menyingkap keberadaanku kepada sesuatu yang jahat, apa pun itu, yang mungkin sedang mengintai di luar sana. Kalian yang masih berjasad, yang tunduk pada kengerian khayali, bayangkan kamu takut dan kamu berharap gelap akan menyelamatkanmu dari kehadiran makhluk jahat di malam hari. Itu sama dengan menerjang musuh yang tak terlihat—siasat keputusasaan!
Setelah memadamkan lampu, aku menarik selimut menutupi kepala, berbaring gemetar dan hanya diam, tak sanggup menjerit, lupa berdoa. Berjam-jam aku dalam keadaan menyedihkan ini; kalian akan menyebutnya berjam-jam—bagi kami tak ada jam, tak ada waktu.
Akhirnya ia datang—bunyi langkah kaki lembut dan tak beraturan di tangga! Langkah itu lambat, ragu, tak pasti, seperti tak melihat jalan; bagi akalku yang sedang kacau, itu semakin mengerikan, seakan makhluk jahat yang buta dan tak berakal sedang mendekatiku dan tak bisa dihindari. Aku bahkan berpikir bahwa aku lupa mematikan lampu lorong dan gerakan meraba-raba makhluk itu membuktikan bahwa ia memang monster malam. Itu bodoh dan bertentangan dengan ketakutanku sebelumnya pada cahaya, tetapi apa boleh buat? Takut tak punya otak; ia dungu. Kesaksian suram yang dibawakannya dan nasihat pengecut yang dibisikkannya tak saling berhubungan. Kami tahu betul soal ini, kami yang telah memasuki Alam Teror, yang bersembunyi dalam senja abadi, tak terlihat bahkan oleh diri sendiri, dan tak saling melihat satu sama lain, hanya bersembunyi merana di tempat-tempat sunyi. Kami merindukan percakapan dengan orang-orang tercinta, namun kami bisu, dan kami takut kepada mereka sebagaimana mereka takut kepada kami. Kadang keterbatasan itu dicabut, hukum ditangguhkan: dengan kekuatan cinta atau benci yang tak mati, kami mematahkan mantra—kami terlihat oleh mereka yang hendak kami peringatkan, kami hibur, atau kami hukum. Wujud apa yang kami tampakkan kepada mereka, kami tidak tahu; kami hanya tahu bahwa kami menakutkan bahkan bagi mereka yang paling ingin kami hibur, dan dari siapa kami paling mendambakan kelembutan dan simpati.
Mohon dimaafkan lanturan dari sosok yang dulu seorang perempuan ini. Kalian yang bertanya kepada kami melalui cara yang tak sempurna ini—kalian tidak paham. Kalian mengajukan pertanyaan bodoh tentang hal-hal yang tak diketahui dan hal-hal terlarang. Kami tahu banyak dan kami bisa menyampaikannya dalam bahasa kami, tetapi itu semua tak bermakna bagi bahasa kalian. Kami harus terbata-bata memilih ucapan yang kalian bisa paham. Kalian mengira kami dari dunia lain. Tidak. Kami tak mengenal dunia selain dunia kalian, hanya saja bagi kami dunia itu tak memiliki sinar matahari, kehangatan, musik, tawa, kicau burung, atau kebersamaan. Ya, Tuhan, betapa mengerikan menjadi hantu, meringkuk dan menggigil di dunia yang berubah, menjadi mangsa ketakutan dan keputusasaan.
Tidak, aku tidak mati karena ketakutan: Makhluk itu berbalik dan pergi. Aku mendengarnya turun tangga, tergesa, kurasa, seolah ia sendiri tiba-tiba ketakutan. Lalu aku bangkit untuk memanggil pertolongan. Namun, baru saja tanganku yang gemetar menemukan gagang pintu, aku mendengar ia kembali. Langkah kakinya saat menaiki tangga terdengar cepat, berat, dan keras; rumah bergetar. Aku lari ke sudut dinding dan meringkuk di lantai. Aku mencoba berdoa. Aku mencoba memanggil nama suamiku tercinta. Lalu kudengar pintu didorong terbuka. Sesaat aku tidak sadar, dan ketika sadar kembali, aku merasakan cekikan di leher—merasakan lenganku memukul lemah sesuatu yang mendorongku ke belakang—merasakan lidahku menjulur sendiri di antara gigi-gigiku! Dan kemudian aku memasuki kehidupan ini.
Tidak, aku tak tahu apa itu. Apa yang kami ketahui saat kami mati sama dengan apa yang kami ketahui sesudahnya. Tentang dunia kami, kami tahu banyak, tetapi tentang apa yang terjadi di masa lalu, tak ada cahaya baru setitik pun yang mengubah pengetahuan kami; yang bisa kami sampaikan hanya yang ada dalam ingatan. Di sini tak ada kebenaran lebih tinggi yang bisa mengurai benang kusut di wilayah yang meragukan itu. Kami tetap tinggal di Lembah Bayang-Bayang, mengintai di tempat-tempat sepi, mengintip dari semak dan belukar para penghuninya yang gila dan jahat. Bagaimana mungkin kami memperoleh pengetahuan baru tentang masa lalu yang memudar itu?
Apa yang hendak kuceritakan ini terjadi pada suatu malam. Kami tahu kapan malam tiba, sebab pada saat itu kalian masuk ke rumah-rumah dan kami berani keluar dari tempat persembunyian untuk bergerak leluasa di sekitar rumah lama kami, mengintip dari jendela, bahkan masuk dan menatap wajah kalian saat tidur. Aku berlama-lama di dekat rumah tempat aku dengan kejam diubah menjadi diriku yang sekarang; kami melakukannya selama orang-orang yang kami cintai masih ada. Mati-matian aku mencari cara menampakkan diri, cara untuk membuat keberadaanku, cintaku, dan kepedihanku dipahami oleh suami dan anakku. Tetapi mereka selalu terbangun ketika aku mendekatinya saat mereka tidur. Dalam keputusasaan, jika aku berani mendekati mereka saat mereka terjaga, mereka akan memperlihatkan kepadaku mata orang hidup yang mengerikan, menakutiku dengan pandangan yang sesungguhnya justru kucari demi apa yang kuinginkan.
Pada malam itu aku mencari mereka tanpa hasil, dan takut menemukan mereka; mereka tak ada di rumah, juga tak di sekitar fajar bercahaya bulan. Sebab, meski matahari hilang bagi kami untuk selamanya, bulan tetap ada bagi kami. Kadang ia bersinar pada malam hari, kadang pada siang hari, tetapi ia selalu terbit dan tenggelam, seperti dalam kehidupan yang lain itu.
Aku meninggalkan halaman dan bergerak di tengah cahaya putih menyusuri jalan, sedih dan tanpa tujuan. Tiba-tiba kudengar suara suamiku berseru kaget, disusul suara anakku yang menenangkan dan membujuknya; dan di sana, di dekat bayang-bayang sekelompok pepohonan, mereka berdiri—dekat, begitu dekat! Wajah mereka menghadap ke arahku, mata lelaki yang lebih tua terpaku pada mataku. Ia melihatku—akhirnya, akhirnya, ia melihatku!
Menyadari itu, ketakutanku lenyap seperti lenyapnya mimpi buruk. Mantra kematian patah: Cinta mengalahkan Hukum! Gila oleh luapan sukacita, aku berteriak—aku pasti berteriak, “Ia melihat, ia melihat: ia akan mengerti!” Lalu, sambil menahan diri, aku melangkah maju, dan memberinya senyum paling manis. Aku akan menyerahkan diri ke pelukannya, menghiburnya dengan belaian, dan, dengan tangan anakku di tanganku, aku akan mengucapkan kata-kata yang bisa memulihkan ikatan yang terputus antara yang hidup dan yang mati.
Aduh! aduh! wajahnya memutih oleh ketakutan, matanya seperti mata hewan buruan. Ia mundur dariku, sementara aku maju, dan akhirnya ia berbalik dan lari ke dalam hutan—ke mana, aku tak diberi tahu.
Kepada anakku, yang kini dua kali kehilangan, aku tak pernah mampu memberinya rasa akan kehadiranku. Tak lama lagi ia juga harus berpindah ke Kehidupan Tak Terlihat ini dan hilang dariku untuk selamanya.[]
—
Diterjemahkan oleh A.S. Laksana; judul asli: The Moonlit Road.
—
*) Gilead, nama wilayah dalam Alkitab, yang dalam tradisi Ibrani dikenal sebagai tempat balsam atau obat penyembuh.
**) Nakhoda jiwaku (the captain of my soul) berasal dari larik puisi “Invictus” oleh William Ernest Henley, penyair Inggris era Victoria; lengkapnya “I am the master of my fate: I am the captain of my soul.”
—-
Ambrose Bierce (1842- diperkirakan 1914) adalah penulis, jurnalis, dan penyair Amerika Serikat. Ia anak ke-10 dari 13 bersaudara dari keluarga sederhana namun literer. Sejak muda Bierce tertarik pada dunia tulis-menulis dan bekerja di sebuah surat kabar abolisionis sebagai printer’s devil, sebutan untuk karyawan magang di percetakan yang menangani pekerjaan kasar seperti mencampur tinta, menyiapkan huruf cetak, dan membantu proses produksi. Bierce kemudian bergabung dengan Union Army saat Perang Saudara Amerika, dan pengalamannya dalam pertempuran—termasuk di Shiloh dan Chickamauga—melahirkan banyak karya fiksi realisnya.
Karya fenomenalnya adalah The Devil’s Dictionary, sebuah kamus satire yang mendefinisikan kata-kata dengan humor gelap dan kritik sosial. Kamus Bierce itu dianggap sebagai salah satu mahakarya sastra Amerika. Dalam penulisan horor, ia disejajarkan dengan Edgar Allan Poe. Dalam penulisan kisah-kisah perang, ia menginspirasi para penulis seperti Stephen Crane dan Hemingway.
Pada 1913, di usia 71 tahun, ia melakukan perjalanan ke Meksiko untuk menyaksikan Revolusi Meksiko secara langsung. Setelah menulis surat terakhir dari Chihuahua pada Desember 1913, ia menghilang tanpa jejak. Misteri hilangnya Bierce menjadikannya salah satu figur paling enigmatic dalam sejarah sastra Amerika.

Leave a Reply