Gunting

Karina Sainz Borgo

Mereka tiba di Cúcuta tengah hari. Semua lapar kecuali si nenek. Ia bersandar di kursi, matanya terpaku pada langit-langit bus. Sejak mereka mulai melakukan perjalanan-perjalanan semacam ini, Herminia tua berhenti makan; ia takut putri dan cucunya akan meninggalkannya di jalan sepi dekat perbatasan. Ia menjadikan lapar sebagai bentuk perlindungan diri.

Semula mereka menyeberang hanya sebulan sekali. Sekarang seminggu sekali. Mereka berangkat sebelum fajar dan kembali setelah hari gelap, kadang membawa tiga tomat kecil atau sebungkus spageti yang akan bertahan paling lama dua hari. Mereka merebus spageti dengan air asin dan memakannya untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Apa pun yang bisa mereka dapatkan, setiap perjalanan akan membuat sekujur tubuh Herminia remuk.

“Kami sudah bilang sebaiknya kau tinggal di rumah saja, Mamá, tapi kau tak pernah mau dengar.”

“Ehem,” si nenek mendesis, mengunyah ketakutannya seperti mengunyah tembakau chimó. “Kau keras kepala seperti bagal,” Koralia menambahkan, sambil mengaduk-aduk tasnya.

Ia menyerah pada omelan putrinya dan menyerahkan kepada Milagros sebutir permen lama dan sebungkus tisu, tidak ada yang lain. Mereka sudah menghabiskan jeruk mandarin terakhir mereka sebelum sampai Capacho Viejo.

“Lalu apa yang harus kulakukan? Tinggal sendirian di rumah?” gumam Herminia. “Kalian akan meninggalkan aku saat aku lengah, dan tak pernah kembali.”

“Oh, jangan bicara yang aneh-aneh, Mamá.”

“Bagaimana kami bisa meninggalkanmu, Abuela?” sela Milagros, cucunya, dengan bayi dalam gendongannya terus menangis menjerit-jerit sampai seluruh keluarga merasa linglung.

Herminia menjalani perjalanan-perjalanan ini dengan keteguhan seorang pertapa tua. Ia perempuan Táchira sampai ke sumsum. Ia memiliki aura sunyi dataran tinggi Andes, kaki yang sedikit bengkok, dan rambut yang disanggul sederhana. Siapa pun yang melihatnya beberapa tahun lalu tak akan mengenalinya lagi sekarang. Berat badannya turun drastis sampai-sampai wajahnya mengempis seperti balon yang meletus, versi rusak dari wajah yang dulu ia perlihatkan kepada dunia saat dirinya masih memegang kendali atas hidupnya sendiri dan hidup semua orang di sekitarnya.

Sekarang ia sama sekali tak mirip perempuan bulat yang oleh anak-anak kampung pernah dijuluki Si Muka Arepa. Herminia dulu memang mirip kue jagung, bentuknya bulat, yang ia panggang dan ia jual di warungnya. Warung itu dibakar oleh sekelompok tentara saat penggerebekan mahasiswa dan tak ada yang membayar ganti rugi kepadanya. Sejak itu, tahun-tahun runtuh menimpanya seperti longsoran lumpur, sampai ia tertimbun sepenuhnya.

Herminia bukan perempuan manis, dan kalaupun dulu pernah, ia sendiri tak lagi mengingatnya. Ia jarang tertawa, dan gaun poplin yang ia kenakan membuat penampilannya keras dan kaku, seolah ia membungkus diri dengan tirai dan bukan pakaian. Suaminya, Antonio, sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Pada suatu dini hari, truk bermuatan penuh yang dikemudikan oleh Antonio hilang kendali saat menikung di Jalan Raya Trans-Andes. Truk itu terjun dari tebing dan remuk di bebatuan. Herminia tak pernah berkabung dengan pakaian hitam, meski siapa pun akan mengatakan bahwa ia lahir dengan wajah janda. Hidup perempuan tua itu tak pernah mudah, tetapi ia bukan jenis orang yang mengeluh. Ibu dan neneknya tidak pernah, dan kenapa ia harus menjadi yang pertama?

Abuela, pegang bayi ini sementara Mamá dan aku mengurus sesuatu,” kata cucunya, dalam nada keras seperti biasa. “Jangan pindah dari sini, dengar?”

“Ya, m’hija, aku dengar.”

Herminia mendesah dan mendekap bayi itu ke pelukannya. Ia tidak begitu suka menjaga bayi itu, tetapi ia belajar memahami tindakan ini sebagai asuransi jiwa: selama ia memegang si bayi, ia aman. Ia yakin inilah satu-satunya jaminan bahwa mereka akan kembali menjemputnya. Ia sudah sering mendengar cerita semacam itu. Sebelum pergi meninggalkan negeri mereka untuk selamanya, keluarga-keluarga itu membuang orang tua mereka. Mereka meninggalkan para orang tua di tangga rumah sakit hanya dengan selimut dan sebotol air. Begitulah para lansia meninggal di tepi perbatasan: diliputi ketakutan dan bertanya-tanya kapan anak-anak mereka akan datang menjemput.

Perempuan tua itu menatap langit, berharap ada petir yang bisa melenyapkan Taman Santander. Pada jam-jam begitu taman penuh merpati dan para “penyeret”—sebutan untuk orang-orang di perbatasan, baik lelaki maupun perempuan, yang melakukan perdagangan barter dan menyeret calon pembeli dengan menggamit lengan baju mereka. Seperti burung-burung merpati, para penyeret itu tampak kumal dan penuh kutu. Dan sama seperti merpati yang memunguti puntung rokok—karena tak ada lagi remah roti—para penyeret berebut orang-orang putus asa yang siap menanggalkan gigi geraham mereka untuk beberapa peso.

Koralia dan Milagros menghilang menyusuri jalan. Mereka butuh sepuluh menit untuk sampai di salon Los Guerreros. Tempat itu kotor, dindingnya ditempeli guntingan majalah mode gaya delapan puluhan: rambut disasak, kelopak mata ungu, rompi dengan pola seperti bakteri, pakaian yang sudah kedaluwarsa. Orang-orang mengantre sampai di luar pintu. Bukan untuk menata rambut, tetapi untuk menjualnya.

“Kami beri enam puluh ribu peso untuk rambutmu, dan sedikit lebih murah untuk ibumu,” kata seorang perempuan ketika akhirnya tiba giliran mereka.

“Tapi rambutku juga panjang,” kata Koralia.

“Tidak seberkilau itu, dan kami hanya memakai rambut kualitas terbaik untuk wig kami.”

Koralia menunduk ketika si penata rambut memegang sehelai rambutnya dengan ibu jari dan telunjuk.

“Kering dan kekurangan vitamin. Ujungnya bercabang,” kata perempuan itu.

“Ya sudah,” kata Koralia, “mau atau tidak?”

“Kalau kami ambil semuanya, dua puluh ribu peso.”

“Hanya dua puluh ribu?”

“Aku sudah memberimu harga bagus.”

“Mamá, jangan tawar-menawar lagi,” sela Milagros. “Kalau digabung dengan enam puluh ribu peso punyaku, kita dapat delapan puluh. Lumayan.”

“Betul, hija, lumayan; lebih tepatnya mengenaskan.”

“Begini saja, Bu. Kalau mau pergi dulu dan pikir-pikir, silakan. Saya tak bisa berdiri di sini seharian menunggu anda memutuskan.”

“Ya sudah, aku mau, meskipun dia tidak,” kata Milagros, tak ingin perjalanan mereka sia-sia.

“Pakai ini.” Perempuan itu menyerahkan jubah salon berwarna hitam. “Dan duduklah di sana. Aku akan panggil penata rambut.”

“Kau yakin menyerahkan rambutmu dipotong habis, hija?” bisik Koralia.

“Ini cuma rambut, Mamá. Jika tetap menempel di kepalaku, ia tak bisa dipakai membeli apa pun di pasar.”

Koralia memandang putrinya seakan menatap dari ujung terowongan panjang. Lalu ia mengangkat rambutnya, mengikatnya jadi ekor kuda, dan pergi mencari perempuan yang memberi penawaran rendah tadi. Ia kembali tak lama kemudian, membawa jubah hitam bertabur noda pewarna rambut, dan duduk di sebelah putrinya. Masih ada dua belas orang di depan mereka.

Tempat itu lebih mirip barak daripada salon: tidak ada cermin atau wastafel, hanya deretan kursi plastik tempat para perempuan menunggu giliran dicukur. Para penata rambut itu sebetulnya tidak layak disebut penata. Mereka hanya memangkas rambut. Itu saja. Mereka mendekat dengan sisir di tangan. Mereka merapikan bagian-bagian yang kusut dan kemudian menyusupkan gunting. Mereka memangkas sedekat mungkin ke kulit kepala agar tak ada satu sentimeter pun terbuang.

Saat akhirnya tiba giliran mereka, ibu dan anak itu sudah hafal bunyi kres-kres gunting ketika bersentuhan dengan rambut. Mereka menanggalkan apa pun yang bisa dijual kepada siapa pun yang mau membayar. Mereka ingin berbalik dan berlari, atau menangis. Tak ada yang mereka lakukan. Mereka hanya menunggu.

Si tua Herminia gelisah. Hampir pukul enam dan matahari mulai surut, pelan-pelan, menuju senja di kota perbatasan. Si bayi tertidur, kelelahan setelah menangis terus-menerus. Kelaparan memang seperti itu: setelah kamu terbiasa, ia akan membuat tubuh mati rasa. Ke mana hilangnya semua hal yang dulu pernah ada, pikir Herminia. Merpati-merpati dekil mengelilinginya.

Koralia dan Milagros muncul. Herminia mengenali mereka dari pakaian yang mereka kenakan. Dari jauh, mereka tampak kurus dan layu dan menua sebelum waktunya. Ia melepas kacamatanya dan membersihkannya dengan gaunnya, ingin melihat mereka lebih jelas. Koralia tak punya rambut, dan Milagros hanya menyisakan bulu-bulu tipis seperti anak ayam kurus. Mereka tampak seperti baru pulang dari medan perang, bukan dari pasar. Mereka menjinjing dua bungkus pasta, yang kemudian mereka masukkan ke dalam ransel—tanpa berkata-kata.[]

*) Diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari versi Inggris “Scissors” terjemahan Elizabeth Bryer.

Karina Sainz Borgo, lahir 1982, adalah seorang jurnalis dan penulis Venezuela yang menetap di Spanyol sejak 2006. Buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari tiga puluh bahasa. Cerpen “Gunting” dimuat dalam buku The Best Short Stories 2021: The O. Henry Prize Winners.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Saya menulis artikel dan surat-surat tentang penulisan kreatif hampir setiap hari. Jika ingin menerima surat-surat dan artikel berikutnya via email, sila masukkan email anda di sini.