Juan Rulfo

“Beri tahu mereka jangan membunuhku, Justino! Pergi dan sampaikan itu. Demi Tuhan! Sampaikan kepada mereka. Tolong, demi Tuhan, katakan itu pada mereka.”
“Aku tidak bisa. Di sana ada sersan yang tidak mau mendengar apa pun tentangmu.”
“Buat dia mau mendengar. Pakai akalmu dan katakan bahwa menakut-nakutiku sudah cukup. Tolong, demi Tuhan.”
“Tapi ini bukan cuma urusan menakut-nakuti. Sepertinya mereka sungguh-sungguh akan membunuhmu. Dan aku tak mau kembali ke sana.”
“Pergilah sekali lagi. Sekali saja, lakukan apa yang bisa kamu lakukan.”
“Tidak. Aku tidak ingin pergi. Kalau aku melakukannya, mereka akan tahu aku anakmu. Kalau aku terus merecoki mereka, akhirnya mereka akan tahu siapa aku dan memutuskan menembakku juga. Lebih baik semuanya seperti sekarang saja.”
“Pergilah, Justino. Minta mereka agar sedikit saja berbelas kasihan kepadaku. Katakan itu saja.”
Justino mengatupkan giginya dan menggelengkan kepala tidak.
Dan ia terus menggelengkan kepala untuk beberapa saat.
“Mintalah kepada sersan agar mengizinkanmu bertemu kolonel. Dan katakan betapa tuanya aku—betapa kecilnya nilaiku. Apa yang dia dapatkan dengan membunuhku? Tidak ada. Lagipula dia pasti punya jiwa. Minta dia bermurah hati demi keselamatan jiwanya sendiri.”
Justino bangkit dari tumpukan batu tempat dia duduk dan berjalan ke pintu kandang. Lalu ia berbalik dan berkata, “Baik, aku akan pergi. Tapi jika mereka memutuskan menembakku juga, siapa yang akan mengurus istriku dan anak-anakku?”
“Takdir akan mengurus mereka, Justino. Pergilah sekarang dan lihat apa yang bisa kamu lakukan untukku. Itu yang penting.”
*
Mereka membawanya saat fajar. Pagi sudah tinggi sekarang dan ia masih di sana, terikat pada tiang, menunggu. Ia tak bisa tenang. Ia sempat mencoba tidur sebentar agar tenang, tapi tak bisa. Ia juga tidak lapar. Yang ia inginkan hanya hidup. Sekarang, ketika ia tahu mereka benar-benar akan membunuhnya, yang ia rasakan hanya hasrat besar untuk bertahan hidup, persis dengan orang yang baru saja dihidupkan kembali.
Siapa sangka urusan lama yang terjadi jauh di masa silam, yang ia kira sudah terkubur, akan muncul lagi? Urusan ketika ia terpaksa membunuh Don Lupe. Bukan tanpa sebab, sebagaimana yang ingin dipercaya oleh klan Alima, melainkan karena ia punya alasan. Ia ingat: Don Lupe Terreros, pemilik Puerta de Piedra—dan sekaligus ayah baptis anaknya—adalah orang yang harus ia bunuh, sebab Don Lupe tidak mengizinkan ia, Juvencio Nava, menggembalakan ternaknya, padahal dia pemilik Puerta de Piedra dan juga ayah baptis anaknya.
Semula ia tidak berbuat apa-apa karena merasa tidak enak. Namun kemudian datang musim kering. Ternaknya mati satu per satu karena kelaparan, sementara si ayah baptis terus menolak membuka jalan ke padang rumput, maka ia menjebol pagar dan menggiring kawanan ternaknya yang kurus-kurus ke padang rumput agar bisa makan sepuasnya. Don Lupe tidak menyukainya dan memerintahkan agar pagar diperbaiki, sehingga ia, Juvencio Nava, harus menjebol pagar lagi. Maka pada siang hari lubang pagar ditutup, dan pada malam hari lubang itu dijebol lagi, sementara ternak-ternaknya tetap berada di dekat pagar, selalu menunggu—kawanan ternak yang hidup hanya dengan mencium bau rumput tanpa pernah merasakannya.
Ia dan Don Lupe berdebat berkali-kali tanpa pernah bersepakat.
Hingga suatu hari Don Lupe berkata, “Dengar, Juvencio, kalau kaubiarkan satu ekor lagi masuk ke padang rumputku, akan kubunuh dia.”
Dan ia menjawab:
“Dengar, Don Lupe, bukan salahku kalau hewan-hewan itu mencari makanannya sendiri. Mereka tidak bersalah. Kau akan menanggung akibatnya kalau sampai membunuh mereka.”
*
“Dan ia membunuh seekor sapi mudaku.
“Itu terjadi tiga puluh lima tahun lalu, pada bulan Maret, karena April aku sudah di pegunungan, lari dari panggilan pengadilan. Sepuluh ekor sapi yang kuberikan kepada hakim tidak menolongku, atau uang gadai rumahku, yang kugunakan untuk menebusku keluar dari penjara. Belakangan, sisa-sisanya habis untuk membuat mereka berhenti mengejarku, namun mereka tetap saja mengejarku. Itu sebabnya aku datang dan tinggal bersama anakku di sebidang tanah lain milikku yang dinamai Palo de Venado. Anakku tumbuh dewasa dan menikah dengan menantuku Ignacia dan sekarang mempunyai delapan anak. Jadi semua itu sudah terjadi sangat lama dan semestinya dilupakan saja sekarang. Tapi rupanya tidak begitu.
“Kupikir waktu itu semua bisa dibereskan dengan seratus peso. Mendiang Don Lupe hanya meninggalkan seorang istri dan dua bocah kecil yang masih merangkak. Dan tak lama kemudian jandanya pun meninggal—kata orang karena duka. Anak-anak dibawa jauh ke tempat kerabat. Jadi, tak ada lagi yang perlu ditakuti dari mereka.
“Namun, orang-orang lain bersikap seolah-olah aku masih dipanggil pengadilan, hanya untuk menakut-nakutiku agar mereka bisa terus merampokku. Setiap kali ada orang datang ke desa, mereka berkata, ‘Ada orang-orang asing datang, Juvencio.’
“Dan aku akan lari ke pegunungan, sembunyi di balik semak-semak madrone, menjalani hari-hari hanya dengan mengunyah dedaunan. Kadang aku harus keluar tengah malam, seakan anjing-anjing itu mengejarku. Begitulah aku menjalani hidup. Bukan setahun dua tahun. Seumur hidupku.”
Dan sekarang mereka datang menjemputnya ketika ia tak lagi menduga akan ada yang datang, yakin bahwa orang-orang telah melupakan semuanya, percaya bahwa setidaknya ia bisa menjalani sisa hidup dengan tenang. “Setidaknya,” pikirnya, “aku akan merasa damai di usia tua. Mereka akan membiarkanku.”
Ia menggenggam harapan itu sepenuh hati. Karena itulah sulit baginya membayangkan bahwa ia akan mati seperti ini, begitu mendadak, di usianya sekarang, setelah sekian lama ia melawan kematian, setelah menghabiskan tahun-tahun terbaiknya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain karena rasa cemas, dan itu terjadi sekarang ketika tubuhnya sudah mengering dan kulitnya mengeras oleh hari-hari buruk saat ia harus sembunyi dari semua orang.
Bukankah ia bahkan membiarkan saja istrinya pergi meninggalkannya? Pada hari ia tahu istrinya pergi, tak terlintas sedikit pun di benaknya untuk menyusul perempuan itu. Ia membiarkannya pergi tanpa mencari tahu dengan siapa atau ke mana, sehingga ia tak perlu turun ke desa. Ia melepaskan istrinya sebagaimana ia melepaskan semua miliknya yang lain, tanpa perlawanan. Yang tersisa padanya untuk dijaga hanyalah hidupnya, dan itulah yang akan ia lakukan, jika yang lainnya sudah tak ada. Ia tak bisa membiarkan mereka membunuhnya. Ia tidak boleh mati. Terlebih sekarang.
Namun itulah alasan mereka membawanya dari sana, dari Palo de Venado. Mereka tak perlu mengikatnya agar ia mengikuti mereka. Ia berjalan sendiri, terikat oleh ketakutannya. Mereka tahu ia tak mungkin lari dengan tubuh tuanya, dengan kaki-kakinya yang sekurus kulit kayu kering, tegang oleh rasa takut mati. Sebab ke sanalah ia menuju. Kematian. Mereka mengatakan itu kepadanya.
Saat itulah ia tahu. Ia mulai merasakan sengatan di perutnya yang selalu datang mendadak ketika ia melihat kematian di dekatnya, membuat matanya membesar oleh ketakutan dan mulutnya dibanjiri ludah asam yang terpaksa ia telan. Dan itulah yang membuat kakinya berat sementara kepalanya terasa kosong dan jantungnya menghantam tulang rusuk sekuat-kuatnya. Tidak, ia tak bisa menyimpan pikiran bahwa mereka akan membunuhnya.
Pasti masih ada harapan. Di suatu tempat pasti masih ada harapan yang tersisa. Mungkin mereka keliru. Barangkali mereka mencari Juvencio Nava yang lain, bukan dirinya.
Ia berjalan membisu di antara orang-orang itu, dengan lengan menjuntai di kedua sisi tubuh. Waktu masih dini, gelap tanpa bintang. Angin bertiup pelan, menerpa tanah kering ke sana kemari, membawa bau air kencing yang selalu ada pada jalan berdebu.
Matanya, yang menyipit oleh usia, memandangi tanah di bawah kakinya, meski hari gelap. Di tanah itulah bertumpu seluruh hidupnya. Enam puluh tahun hidup di atasnya, menggenggamnya erat-erat di tangan, mencecapnya seperti orang mencecap rasa daging. Lama ia mencacah tanah itu dengan matanya, menikmati setiap bagian seakan itu yang terakhir, hampir mengakui bahwa itu memang yang terakhir.
Lalu, seakan hendak mengatakan sesuatu, ia menoleh kepada orang-orang yang berjalan di sisinya. Ia ingin memohon agar dilepaskan, agar dibiarkan pergi; “Aku tidak menyakiti siapa pun, Nak,” hendak ia katakan, tetapi ia diam. “Sebentar lagi akan kukatakan,” pikirnya. Ia hanya memandang mereka. Ia bahkan bisa membayangkan mereka sebagai kawan-kawannya, tetapi ia tak mau. Mereka bukan kawan. Ia tak tahu siapa mereka. Ia memperhatikan mereka berjalan di sampingnya dan sesekali membungkuk untuk melihat ke mana jalan berlanjut.
Ia pertama kali melihat mereka saat senja, waktu remang-remang ketika segalanya tampak hangus. Mereka memintas alur ladang dan menginjak jagung-jagung muda. Dan karena itulah ia turun—untuk memberi tahu mereka bahwa jagung-jagung baru mulai tumbuh. Tetapi itu tak menghentikan mereka.
Ia sudah melihat mereka tepat waktu. Ia selalu punya keberuntungan untuk melihat segalanya tepat waktu. Ia bisa sembunyi, naik ke pegunungan beberapa jam sampai mereka pergi, dan kemudian turun lagi. Musim hujan seharusnya sudah tiba, tetapi hujan tak kunjung datang dan jagung mulai layu. Tak lama lagi semuanya akan kering.
Jadi, tak ada gunanya ia turun dan membaurkan diri di tengah orang-orang itu; ia seperti masuk lubang, dan tak pernah keluar lagi.
Kini ia terus berjalan di samping mereka, menahan dorongan untuk memohon agar mereka melepaskannya. Ia tak melihat wajah mereka, ia hanya melihat tubuh-tubuh mereka, yang terayun ke arahnya lalu menjauh lagi. Maka ketika ia mulai bicara, ia tak tahu apakah mereka mendengarnya. Ia berkata, “Aku tak pernah menyakiti siapa pun.” Itu saja yang ia katakan. Tetapi tak ada yang berubah. Tak satu pun dari tubuh-tubuh itu tampak memperhatikan. Wajah-wajah tak menoleh ke arahnya. Mereka terus berjalan, seolah sedang berjalan dalam tidur.
Lalu ia berpikir bahwa ia tak perlu berkata apa-apa lagi, bahwa ia harus mencari harapan di tempat lain. Ia membiarkan lengannya kembali terkulai dan berjalan melewati rumah-rumah pertama di desa, bersama empat orang itu, yang tampak samar oleh warna hitam malam.
*
“Kolonel, ini orangnya.”
Mereka berhenti di depan pintu sempit. Ia berdiri dengan topi di tangan, dengan sikap hormat, menunggu seseorang keluar. Tetapi yang keluar hanya suara, “Orang yang mana?”
“Dari Palo de Venado, Kolonel. Orang yang anda perintahkan untuk kami bawa.”
“Tanyakan kepadanya apakah ia pernah tinggal di Alima,” kata suara dari dalam lagi.
“Hei, kamu. Pernah tinggal di Alima?” sersan di hadapannya mengulang pertanyaan itu.
“Ya. Katakan pada kolonel bahwa aku berasal dari sana. Dan bahwa aku tinggal di sana hingga belum lama ini.”
“Tanyakan apakah ia mengenal Guadalupe Terreros.”
“Dia bilang, apakah kamu mengenal Guadalupe Terreros?”
“Don Lupe? Ya. Katakan padanya bahwa aku mengenalnya. Dia sudah mati.”
Lalu suara di dalam langsung mengubah nadanya. “Aku tahu dia mati,” katanya. Dan suara itu terus berbicara, seolah sedang bercakap dengan seseorang di balik dinding anyaman.
“Guadalupe Terreros adalah ayahku. Ketika aku tumbuh besar dan mencarinya, mereka mengatakan ia sudah mati. Sulit untuk tumbuh dengan kesadaran bahwa satu-satunya pegangan untuk menemukan akar sudah tiada. Itulah yang terjadi pada kami.
“Kemudian aku tahu bahwa ia dibunuh dengan tebasan parang dan di perutnya tertancap tongkat penggiring sapi. Mereka mengatakan ia bertahan lebih dari dua hari dan ketika mereka menemukannya, tergeletak di sebuah parit, ia masih kesakitan dan memohon agar keluarganya diurus.
“Waktu berjalan dan kau tampaknya melupakan ini. Kau mencoba melupakannya. Yang tak bisa dilupakan adalah kau tahu bahwa orang yang melakukannya masih hidup dan menyuapi jiwa busuknya dengan ilusi hidup abadi. Aku tak bisa memaafkan orang itu, meskipun aku tak mengenalnya; aku tahu di mana ia berada dan itu membuatku ingin menghabisinya. Aku tak bisa tenteram bahwa ia masih hidup. Ia seharusnya tak pernah dilahirkan.”
Dari luar, semua yang dikatakan oleh kolonel itu terdengar jelas. Lalu ia memerintahkan, “Bawa dia dan ikat sebentar, biar dia menderita, lalu tembak dia!”
“Lihat aku, Kolonel!” pintanya. “Aku tak berharga sama sekali sekarang. Tak lama lagi aku akan mati sendiri, dilumpuhkan oleh usia tua. Jangan bunuh aku!”
“Bawa dia pergi!” ulang suara itu dari dalam.
“Aku sudah membayar semuanya, Kolonel. Aku sudah membayarnya berkali-kali. Mereka mengambil semuanya dariku. Aku dihukum dengan berbagai cara. Hampir empat puluh tahun aku bersembunyi seperti orang kusta, selalu takut bahwa mereka akan membunuhku kapan saja. Aku tak pantas mati seperti ini, Kolonel. Biarlah Tuhan mengampuniku, setidaknya. Jangan bunuh aku! Katakan kepada mereka jangan membunuhku!”
Di sanalah ia, seperti orang yang sudah dipukuli, mengayunkan topinya ke tanah. Berteriak.
Segera suara dari dalam berkata, “Ikat dia dan beri dia minum sampai mabuk supaya tembakan-tembakan itu tak menyakitinya.”
*
Akhirnya, kini, ia sudah ditenangkan. Ia terkulai di kaki tiang. Anaknya Justino datang dan anaknya Justino pergi dan datang lagi dan sekarang pergi lagi.
Ia mengangkat tubuh itu ke punggung bagal. Ia mengikatnya erat-erat di atas pelana agar tak jatuh di jalan. Ia memasukkan kepalanya ke dalam karung agar tak menimbulkan kesan yang terlalu buruk. Lalu ia mencambuk bagal itu, dan mereka bergegas agar tiba di Palo de Venado tepat waktu untuk mengurus pemakaman orang mati itu.
“Menantumu dan cucu-cucumu akan merindukanmu,” katanya kepadanya. “Mereka akan memandang wajahmu dan tak percaya itu kamu. Mereka akan mengira anjing hutan telah memangsamu ketika melihat wajahmu yang penuh lubang, terlalu banyak peluru ketimbang yang diperlukan.”
—
Diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari versi Inggris “Tell Them Not to Kill Me!”terjemahan Ilan Stavans bersama Harold Augenbraum. Cerpen tersebut ada dalam kumpulan cerpen The Plain in Flames.
—

Juan Rulfo (1917-1986) adalah penulis Meksiko yang dianggap sebagai salah satu penulis fiksi terbaik Amerika Latin abad ke-20. Cerpen-cerpennya dinilai nyaris mencapai kesempurnaan bentuk. Ia menulis ringkas; ia memilih kata secara ketat; ia menulis hanya sedikit—satu kumpulan cerpen dan satu novel pendek.
Rulfo sangat keras terhadap karya-karyanya sendiri. Kumpulan cerpennya, El llano en llamas (1953), atau Plain in Flames, terus ia perbaiki dari cetakan ke cetakan. Ia mengganti kata, menghapus kalimat, juga membuang cerpen yang menurutnya tidak cukup kuat. Setelah novel pendek Pedro Páramo, ia hampir tidak menulis fiksi lagi. Ia memilih berhenti daripada menulis lebih banyak tetapi tidak setepat yang ia inginkan.
Kehidupannya diwarnai dengan kehilangan dan kekerasan. Ayahnya dibunuh ketika ia masih kecil, ibunya meninggal tak lama kemudian, dan ia tumbuh di tengah kekerasan revolusi dan perang agama di Meksiko. Dunia dalam cerpen-cerpennya adalah desa-desa miskin, keluarga yang hancur, dan manusia-manusia yang bertahan dengan sisa martabat yang mereka punya.

Leave a Reply