1. Di Tepi Gangga

A.S. Laksana

Santanu, raja keempat belas wangsa Kuru, memacu kudanya menjelajah hutan. Ia pemburu yang terampil dan ia penyendiri sejak kanak-kanak; setiap kali berburu, ia akan pergi sendirian, sebab baginya berburu adalah sembahyang. Ia melakukannya untuk menyatukan diri dengan hutan belantara, dan ia tidak memerlukan rombongan pengawal untuk bersembahyang.

Orang-orang di istananya sudah mulai khawatir bahwa raja mereka terlalu penyendiri dan tidak akan pernah beristri selamanya. Santanu telah menolak semua putri yang ditawarkan kepadanya oleh para sesepuh kerajaan.

“Raja memerlukan permaisuri dan keluarga Bharata memerlukan penerus, Tuanku,” kata penasihatnya suatu hari.

“Akan tiba waktunya, Paman,” katanya.

“Tidak ada satu putri pun yang Tuanku berkenan?”

“Nanti pasti ada, Paman. Untuk sekarang, aku belum memikirkannya.”

Sesungguhnya memang tidak ada. Santanu tidak tertarik pada semua perempuan yang mereka bicarakan.

Hari hampir senja dan warna jingga mulai membayang di langit barat, dan Santanu sudah berada di punggung kudanya sejak fajar, namun anak panahnya belum mengenai satu pun hewan buruan. Satu kali ia melihat macan tutul di balik rimbun semak-semak dan panahnya meleset; dua kali ia gagal memanah rusa jantan. Anak panah terakhir yang dilepaskannya melebar sejengkal dari sasaran.

Belum pernah ia seperti ini. Ia berburu seperti orang yang baru pertama kali masuk hutan dan memanah seperti kanak-kanak yang baru belajar dan ia tidak tahu apa yang membuatnya seburuk itu. Matahari sudah terbenam di bukit-bukit barat ketika Santanu tiba di tepi sungai yang airnya berkilauan—Gangga.

Ia turun dari kudanya yang kelelahan dan menuntun tunggangannya itu ke tepi air dan membiarkannya minum sepuasnya. Ia sendiri berlutut di samping kudanya, membasuh tangan dan wajah dan memulihkan tenaga dengan meneguk air suci Gangga. Dan tiba-tiba ia merasa bahwa ia tidak sendirian di tempat itu.

Seorang perempuan, tubuhnya memancarkan terang seolah-olah terbuat dari cahaya, berdiri tak jauh darinya. Rambut hitamnya mengalir ke pinggang, lembut seperti arus sungai. Santanu menegakkan tubuh dan mematung beberapa saat, tersihir oleh pemandangan di hadapannya. Ia mengenal perempuan itu; ia merasa mengenal perempuan itu dan sudah berkali-kali bertemu dengannya sebelum senja itu. Berkali-kali Santanu melihatnya dalam mimpi, bahkan sebelum ia menjadi raja, dan sekarang perempuan itu benar-benar berdiri di hadapannya.

“Saya Santanu, raja Hastinapura,” akhirnya ia bicara, dalam suara berbisik, seperti takut bahwa suaranya akan menyakiti pendengaran perempuan itu. “Sudah lama saya menantikan pertemuan ini. Ikutlah ke istanaku dan jadilah permaisuriku.”

“Terima kasih, Tuanku,” kata perempuan itu. “Tetapi saya khawatir Tuanku tidak akan sanggup memenuhi permintaan saya.”

“Apa pun yang kamu minta–”

“Tuanku tidak boleh menanyakan siapa saya, atau mempertanyakan apa pun yang saya lakukan, sekalipun tindakan itu sangat buruk kelihatannya.”

Santanu berlutut di hadapan perempuan itu dan bersumpah memenuhi permintaannya. Lalu ia menaikkan perempuan itu ke punggung kudanya dan mereka meninggalkan sungai pulang ke Hastinapura.

“Saya akan pergi dan kita berpisah selamanya jika Tuanku melanggar sumpah,” kata perempuan itu dalam perjalanan.

“Tidak akan pernah,” kata Santanu. “Aku tidak akan pernah menanyaimu, apa pun yang kamu lakukan.”

Berdua di punggung kuda, Santanu duduk di belakang menjaganya, dan membenamkan wajahnya pada rambut perempuan itu, rambut yang seperti arus Gangga, dan ia merasa seolah-olah sedang berenang mengikuti arus sungai suci itu menuju langit.

*

Kini Hastinapura memiliki ratu; Santanu menamai permaisurinya Gangga, karena di sungai itulah ia menemukannya.

Setahun berlalu dan pada suatu malam musim panas, Gangga memberi tahu Santanu bahwa ia hamil. Hastinapura menggelar pesta sebulan penuh untuk menyambut kabar baik tentang akan lahirnya penerus tahta. Semakin dekat hari kelahiran, raja terlihat semakin bahagia, tetapi permaisuri pucat dan murung dan jari-jarinya gemetar mengelus perutnya yang kian membesar. Sebetulnya Santanu tahu bahwa Gangga terlihat cemas dan lebih suka menarik diri, tetapi ia pikir itu wajar pada perempuan hamil.

Musim dingin berakhir dan pada hari cerah musim semi seorang utusan menghadap raja dengan napas terengah-engah, mengabarkan bahwa Ratu Gangga telah melahirkan seorang putra. Santanu bangkit dari singgasananya dan berlari menuju istana permaisuri, mengabaikan para penjaga yang mencoba menyampaikan sesuatu kepadanya, dan menyerbu masuk ke ruang persalinan. Ruangan itu kosong.

“Di mana dia?” teriaknya. “Di mana anakku?”

Kepala pengawal tergopoh-gopoh menghadap dan melaporkan: “Paduka Ratu keluar membawa bayinya ke sungai dan tidak mengizinkan satu pun dari kami mengikutinya.”

Gangga meninggalkan istana dengan kereta. Santanu meminta disiapkan kuda tercepat untuk mengejar istrinya. Senja hari ia tiba di tepi sungai, di tempat mereka pertama kali bertemu.

Langit merah seperti bekas luka, dan Santanu melihat dari punggung kudanya Gangga berdiri di tepi air, dengan bayi di dalam pelukannya. Perempuan itu berbicara khidmat kepada sungai dalam bahasa tua yang tidak dipahami oleh Santanu.

Lalu, sambil terus melantunkan mantra, Gangga mengangkat bayinya tinggi-tinggi di atas kepala, dan Santanu melompat turun, otot-ototnya menegang, dan ia hendak menjerit kuat-kuat ketika melihat tangan Gangga siap melemparkan bayi itu ke sungai. Tetapi tiba-tiba di telinganya bergaung ucapan perempuan itu: “Saya akan pergi dan kita berpisah selamanya jika Tuanku melanggar sumpah.”

Ia hanya membeku di tempatnya saat melihat Gangga benar-benar melemparkan darah daging mereka sendiri ke sungai, dan sungai menciptakan pusaran untuk menelan bayi itu. Bayi lenyap dan permukaan sungai kembali tenang, menyisakan keganjilan yang mengerikan, dan Gangga sudah berhenti melantunkan mantra. Kini perempuan itu menangis, seolah-olah ia baru saja merenggut jantungnya sendiri dan membuangnya ke sungai.

Setelah tangisnya reda, Gangga menoleh ke arah suaminya. Wajahnya memancarkan cahaya keemasan dan, selama hidup, Santanu tidak akan pernah melupakan raut wajah istrinya pada senja itu. Sebelum Santanu bisa berkata-kata, Gangga berlari ke arahnya  dan melingkarkan tangan ke lehernya. Mata perempuan itu menembus matanya, seolah mengingatkan: “Ingat sumpahmu!”

Dengan tangan yang lunglai, Santanu memeluk istrinya, membenamkan diri ke pusaran yang tak ia pahami. Seumur hidup ia hanya ingin memperistri perempuan ini, yang berulang-ulang datang ke dalam mimpinya, dan ia menikahinya setelah perjumpaan pertama mereka di tepi Gangga, dan sekarang ia hanya bisa menekan kuat-kuat semua gejolak di dalam dirinya setelah kengerian yang baru saja ia saksikan.[]

Melengkapi Bahan Belajar:
Dia Ingin, Tetapi…

Setiap penulis ingin disiplin menulis setiap hari, tetapi menemukan cerita setiap hari sering tidak mudah. Metode “Tetapi” membantu anda menemukan cerita dan merancang adegan-adegan paling kuat untuk cerita anda.

Lebih Lanjut ➔

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Saya menulis artikel dan surat-surat tentang penulisan kreatif hampir setiap hari. Jika ingin menerima surat-surat dan artikel berikutnya via email, sila masukkan email anda di sini.