
Untuk melihat perbedaan nyata antara dialog yang lemah dan dialog yang kuat, sila anda lihat bagaimana dialog “ceramah” diperbaiki menjadi dialog yang hidup dalam contoh di bawah ini.
Contoh isi buku:
Bab 14. Jangan Menjadikan Dialog sebagai Info Dump
Dialog info dump adalah dialog yang berhenti sebagai percakapan dan berubah menjadi alat penjelasan. Tokoh tidak berbicara karena desakan situasi atau demi tujuan tertentu, tetapi karena penulis ingin memberi tahu pembaca melalui mulut tokoh. Dalam dialog ini, tidak ada risiko apa pun bagi si penutur dan tidak ada dampak bagi lawan bicara. Ujarannya rapi dan panjang dan tidak memerlukan respons tokoh lain. Tokoh berbicara sebetulnya untuk menyampaikan informasi kepada pembaca.
Ada beberapa jenis dialog yang tergolong info dump….
*
Dialog-dialog di bawah ini disusun dengan menggunakan model dialog info dump yang saya jumpai di cerpen-cerpen yang sudah dimuat di media massa.
“Aku sudah berada pada fase di mana peranku tak akan berubah lagi,” katanya tenang. “Orang mengira aku sekadar menjalani rutinitas, padahal bagiku pekerjaan ini adalah latihan menerima diri sendiri. Kita belajar menertawakan kekurangan kita, dan itu tidak mudah. Banyak orang gagal karena terlalu sibuk melindungi harga dirinya. Perlu keberanian untuk mengakui kelemahan dan berdamai dengannya.”
Dialog berubah menjadi ceramah tentang nilai hidup, dengan istilah-istilah abstrak “harga diri”, “menerima diri”, “keberanian”, “kelemahan”. Apa yang bisa direspons oleh lawan bicara ketika seseorang memberi ceramah seperti ini? Tidak ada. Lawan bicara tidak menantang, tidak memotong pembicaraan, tidak terjadi salah paham. Tokohnya tidak berbicara sebagai manusia, tetapi sebagai penyampai gagasan.
“Proyek ini akan dimulai dari lahan bekas kuburan di bukit di sebelah utara itu sampai ke pemukiman lama di selatan,” kata cukong. “Soal pembebasan tanah, relokasi warga, dan izin bangunan, semua saya serahkan padamu. Aku ingin semuanya selesai sebelum akhir tahun.”
Dialog terdengar seperti notulen rapat yang dibacakan keras-keras. Ia ada agar pembaca paham apa yang akan terjadi, bukan karena tokoh perlu mengatakannya.
“Aku tak sanggup melihat dia semakin lemah,” katanya pelan. “Kamu tahu, dulu dia sering duduk di bangku itu setiap sore membaca buku, merapikan halaman jika rumputnya sudah perlu dipangkas, dan selalu menyapa tanaman. Dia suka bercakap-cakap dengan tanaman. Aku biasa mengamatinya dari dalam rumah. Dia sangat bahagia dengan kelahiranmu. Dia menuntunmu di halaman rumput ketika kamu belajar jalan. Ketika kamu sudah bisa berlari-larian, dia membuat pesawat kertas dan mainan apa saja untuk membuatmu senang. Hampir setiap hari dia mengajakmu bermain-main.”
Dialog ini memindahkan satu potongan masa lalu secara lengkap, dari kebiasaan hingga perubahan hidup. Tidak ada desakan situasi yang mengharuskan tokoh mengisahkan semuanya sekarang. Tidak ada konflik yang memicu keluarnya nostalgia itu. Dialog hanya berfungsi menggantikan narasi. Penulisnya mungkin tidak menemukan celah untuk menyampaikan informasi itu di dalam narasi, maka yang muncul adalah dialog semacam itu, yang disampaikan begitu saja meskipun adegan tidak memaksa dia menyampaikannya
*
Untuk memperbaiki dialog info dump dan menjadikannya dialog yang hidup dalam adegan, kita harus memecah penyampaian informasi yang semula disampaikan rapi dan runtut.
“Kenapa kamu meninggalkan dia?” tanyaku.
“Aku tak sanggup melihat dia semakin lemah,” katanya.
Ia menoleh ke halaman. Matanya memandangi bangku tua di bawah pohon jambu.
“Bukankah seharusnya kamu terus mendampinginya?”
“Ya, tapi aku tak sanggup.”
Kami diam sebentar. Angin menggerakkan daun-daun. Aku tak tahu harus mengatakan apa kepada perempuan yang tega meninggalkan suaminya ketika dia sendiri tahu keadaan suaminya melemah.
“Dia berhenti membaca setelah kamu lahir,” lanjutnya.
“Itu bukan alasan untuk meninggalkannya.”
“Dia bilang tangannya lebih dibutuhkan untuk hal lain.”
“Aku tanya kenapa kamu meninggalkannya.”
Kedua tangannya mendekap dada, seperti menahan dingin yang tak ada.
“Dia pernah membuatkanmu pesawat kertas,” katanya akhirnya. “Itu mainan pertamamu.”
“Aku tidak ingat,” kataku.
“Memang tidak perlu. Ingatan hanya menyakiti.”
Masalahnya, menyusun dialog seperti ini membutuhkan upaya. Info dump lebih mudah ditulis. Penulisnya tidak perlu memikirkan gestur, tidak perlu memikirkan bagaimana dialog tidak harus berupa tanya-jawab langsung, tidak perlu memikirkan dialog sebagai tindakan verbal. Dia tidak berpikir bahwa sedikit upaya akan menjadikan dialognya lebih “benar”.
***