Cerita memikat pembaca karena ia menempatkan karakter utama dalam kesulitan. Tokoh anda harus memutuskan, harus bertindak, harus memilih ke kiri atau ke kanan, dan dua-duanya berisiko. Ke kiri kehilangan ibu, ke kanan kehilangan pasangan.
Itu situasi simalakama, dan dalam situasi itulah kemanusiaan diuji.
Dan dia harus memilih salah satu, sebab jika dia diam, dia kehilangan keduanya.
Katakanlah tokoh anda memegang prinsip yang tak bisa ditawar bahwa ibu harus dihormati dan dibahagiakan, dan pasangan harus dicintai dalam situasi apa pun.
Itu prinsip hidup yang terdengar mulia; itu prinsip yang layak dipertahankan. Jika semuanya berjalan normal, dia bisa menjalani hidup yang tenteram dan membangun hubungan yang baik dengan orang-orang yang ia sayangi.
Tetapi cerita tidak menghendaki kehidupan berjalan normal. Cerita anda tak punya daya tarik jika segala sesuatu baik-baik saja dan tokoh utama bisa menjalani hidup sesuai prinsip yang dia pegang.
Prinsip atau keyakinan hidup tokoh utama harus dihadapkan pada tantangan.
Sekarang, bagaimana jika dia harus mencoret satu nama? Bagaimana jika masing-masing dari mereka mengancam “pilih aku atau dia”?
Dia harus mencoret satu nama. Dia tidak mungkin melakukannya. Dia tidak mungkin menabrak prinsip hidupnya sendiri. Namun, situasinya jelas tidak memungkinkan bagi dia untuk mempertahankan prinsip atau keyakinan hidup itu.
*
Situasi simalakama ini bisa terjadi dalam banyak hal, di berbagai tempat, pada situasi sosial yang mana pun.
Seseorang memegang keyakinan bahwa pernikahan sebagai sesuatu yang suci bahwa apa yang dipersatukan oleh Tuhan tidak bisa dipisahkan oleh manusia. Bagaimana jika pernikahan itu memberinya hanya sedikit kebahagiaan di awal, dan sisanya adalah penderitaan semata? Bagaimana jika pasangannya penyiksa atau penyeleweng atau mengabaikan tanggung jawab?
Apakah ia akan meninggalkan keyakinan hidupnya?
Mungkin ia sanggup bertahan. Ada banyak orang yang tahan menderita asalkan rumah tangga mereka tidak bubar.
Tetapi bagaimana jika situasinya benar-benar memaksa dia menyingkirkan pasangannya? Apakah ia akan melakukannya, yang berarti memutuskan hubungan dua orang yang dipertemukan oleh Tuhan? Jika ia melakukannya, ia melanggar keyakinan hidupnya.
Atau bagaimana jika ia bertemu dengan cinta masa lalunya, dan orang itu masih mencintainya, dan situasi orang itu memungkinkan percintaan mereka dilanjutkan ke pernikahan?
Apakah ia akan meninggalkan prinsip hidupnya demi cinta yang mungkin lebih membahagiakan?
*
Jadi, beri tokoh anda prinsip hidup atau keyakinan yang tidak bisa ditawar. Lalu benturkan prinsip hidup itu dengan kenyataan yang membuat tokoh utama berhadapan dengan dua pilihan yang sama-sama sulit. Dari sana anda mendapatkan tema cerita.
Dari contoh pertama, yang tokoh utamanya harus mencoret satu nama, anda bisa mendapatkan tema-tema, misalnya, tentang harga sebuah pilihan, atau tentang kesetiaan yang selalu meminta korban, atau tentang bakti yang menghancurkan cinta, atau tentang hidup yang tidak menyediakan jalan keluar, dan sebagainya.
Dari contoh kedua, apakah harus mempertahankan atau memutuskan ikatan pernikahan, anda bisa mendapatkan tema-tema, di antaranya tentang iman yang menyengsarakan, atau tentang penderitaan yang dibenarkan oleh keyakinan, atau tentang keberanian untuk meninggalkan sesuatu yang dianggap suci, dan banyak lagi.
Untuk cerpen anda mungkin cukup memilih satu tema. Untuk novel anda bisa menetapkan beberapa tema.
Penting mengetahui tema cerita, sebab tema adalah apa yang anda sampaikan melalui cerita. Tena memberi arah bagi cerita anda. Tanpa tema, atau jika anda tidak tahu temanya, cerita anda bisa melantur, tidak punya fokus, berjalan tanpa arah. Ia seperti orang yang terus melangkah tanpa tahu ke mana akan menuju.
Salam,
A.S. Laksana
—

Leave a Reply