Mari kita membahas cerpen “Kepala Kantor Pos” karya Rabindranath Tagore. Bagaimana narasinya bekerja? Apa yang tampak di permukaan? Apa yang ada di bawah permukaan?
Ini bukan analisis dengan teori yang rumit—hanya melihat lebih jeli bagian-bagian penyusun cerita.
Kita akan menggunakan kerangka 5 elemen (Pengenalan, Pengembangan Awal, Provokasi, Tindakan, dan Resolusi) untuk melihat bagaimana Tagore mengembangkan bagian demi bagian.
1. Pengenalan
Tagore mulai dengan memperkenalkan tokoh utama (kepala kantor pos), situasinya di desa terpencil yang seperti ikan dilemparkan ke daratan, apa yang mengganggu pikirannya, tokoh sekunder Ratan yang membantunya sehari-hari, dan gambaran interaksi mereka.
2. Pengembangan awal
Bagian ini dimulai ketika kepala kantor pos merasa tidak ada yang bisa dilakukan pada hari-hari musim hujan. Situasi ini, dan kesepian yang kian terasa, memunculkan keinginan pada tokoh utama untuk didampingi seseorang yang bisa dia peluk kuat-kuat. Lalu ia berpikir untuk mengajari Ratan membaca. Pada bagian ini, Ratan sudah memanggilnya “Dada” (kakak), yang memperlihatkan mereka semakin dekat satu sama lain.
3. Provokasi
Ratan merasakan situasinya berbeda. Beberapa hari tidak ada panggilan; ia mengintip dan mendapati bahwa majikannya demam. Pada saat itu Ratan tidak lagi menjadi gadis yang hanya disuruh-suruh. Ia menggantikan posisi “ibu” atau perempuan yang merawat dan menyayanginya. Mereka kemudian menjadi dekat.
Situasi ini memprovokasi kepala kantor pos untuk melakukan tindakan.
4. Tindakan
Kepala kantor pos memutuskan meninggalkan tempat itu. Di sini Tagore menggunakan alasan fisik untuk mengakhiri hubungan mereka, yaitu kepala kantor ingin dipindahkan ke tempat lain karena tempat itu tak sehat. Permohonannya ditolak, ia kecewa, dan memutuskan pulang ke rumah. Itu alasan tekstual.
Alasan di bawah permukaan (subtext) adalah hubungan mereka, bagaimanapun, tidak mungkin dilanjutkan. Kepala kantor pos adalah orang terhormat dan sombong. Ratan hanya gadis desa yang lugu dan tidak berpendidikan. Cinta di antara mereka menjadi “terlarang”, berdasarkan status sosial (informasi latar belakang kepala kantor pos dan Ratan sudah disampaikan di bagian pengenalan).
5. Resolusi
Perpisahan terjadi, dengan masing-masing merasakan kepedihan. Kepala kantor pos sempat menyesali keputusannya meninggalkan Ratan, tetapi sudah terlambat, dan ia akhirnya hanya bisa merasionalisasi perpisahan. Ratan yang lugu tidak mampu merenungkan perpisahan itu secara filosofis; ia hanya menyimpan harapan bahwa suatu saat Dada-nya akan kembali.
*
Kita selalu bisa menggunakan kerangka 5 elemen di atas untuk memetakan setiap cerpen bagus yang kita baca. Belajar memetakan cerita-cerita yang kita baca akan membantu anda terbiasa melihat pola. Itu akan meningkatkan kepekaan anda dalam memahami bagaimana cerita dikerjakan.
Kembali ke cerpen Tagore. Kita bisa mengatakan bahwa “Kepala Kantor Pos” itu adalah variasi dari tema cinta terlarang. Dua orang menjalin hubungan, dan tak boleh dilanjutkan. Dalam hal ini, penghalang percintaan mereka adalah perbedaan kelas dan kondisi internal kepala kantor pos, dan Tagore menuliskannya sebagai tragedi lembut tentang kelas sosial dan kesadaran diri yang memisahkan dua orang.
Kepala kantor pos menjadi semakin dekat dengan Ratan ketika ia sakit, Ratan merawatnya, dan ia sakit cukup lama. Ketika ia sudah sehat, ia mengambil keputusan untuk mencegah dirinya dari kedekatan yang lebih jauh. “Cukup sudah,” katanya tegas. “Aku harus pindah.” Maka ia menulis surat pindah dengan alasan kesehatan fisik, padahal batinnyalah yang sakit.
Ratan mencintainya dalam bentuk cinta yang paling polos, tanpa dorongan erotis, tanpa keinginan lebih jauh, hanya ingin bersama lelaki itu. Tapi karena cinta itu datang dari bawah, dari gadis yatim piatu di desa terpencil, kepada lelaki terpelajar dari kota, ia tidak diizinkan oleh norma sosial. Tidak diizinkan juga oleh gengsi si lelaki.
Perpisahan itu akhirnya menjadi pilihan etis demi memelihara ilusi moral kepala kantor pos. Ia sempat ingin kembali ketika muncul rasa iba terhadap gadis itu, tetapi ia tidak melakukannya. Ia memilih menenangkan diri dengan renungan filosofis bahwa “semua perpisahan sama saja.” Dan di situlah ia bermasalah: Ia menutupi kegagalan emosionalnya dengan akal.
Tagore, dengan cerpen itu, menunjukkan bahwa manusia bisa keliru justru ketika merasa sedang bertindak benar.
*
Sekarang, mengenai tahap-tahap yang saya gunakan, sebetulnya orang bisa menamai tahap-tahap perjalanan cerita dengan istilah apa saja.
Saya membagi tahap-tahap itu berdasarkan logika sebab-akibat dalam suatu cerita. Karena itu 5 elemen yang digunakan adalah (1) pengenalan, (2) pengembangan awal, (3) provokasi, (4) tindakan, dan (5) resolusi.
Tahap-tahap itu memudahkan kita melihat perjalanan logis sebuah cerita, perjalanan batin karakter, termasuk untuk melihat ketepatan respons tokoh utama terhadap situasi, tindakan yang ia pilih, dan risiko tindakan itu. Anda selalu bisa menggunakan kerangka ini untuk mempelajari bagian demi bagian pada hampir semua cerita.
Pembicaraan terperinci tentang pola ini, terutama tentang cara kerjanya untuk menghasilkan cerita, saya sampaikan di ebook Cara Menulis Cerpen secara Cepat & Mudah–jika anda tertarik mengetahuinya lebih mendalam.
Saya juga akan senang jika anda bergabung ke Rumah Cerita, dan belajar bersama teman-teman yang lain tentang aspek-aspek craftsmanship penulisan—untuk menulis lebih baik.
Salam,
A.S. Laksana

Leave a Reply